AHLUL BAIT TELADAN SEMPURNA Bismillaah, walhamdu lillah, wash-shalaatu was salaamu ‘ala rasulillah wa’ala aalihi wa man waalah, amma ba’du. Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT Tuhan semesta alam. Salawat dan salam sejahtera untuk Rasul penghulu umat Sayidina Muhammad saw serta Ahlul Baitnya yang suci dari dosa. Salam sejahtera untuk para sahabat-sahabat yang tulus, ikhlas dalam menghadapi cobaan dan derita dan menjadi teladan demi terwujudnya Panji “La ilaha Illallah”. Ahlul Bait adalah sebuah kata yang mana Alllah dan Rasul-NYA memberikan suatu makna khusus, kekhususan ini bukanlah suatu hal yang mustahil apabila Allah Swt berkehendak dan Allah mustahil memerintahkan suatu pengkultusan yang mencemari iman dan tauhid. Kecintaan kepada mereka diperintahkan kepada umat Islam karena Allah sendiri yang memuji mereka dalam ayat-ayat-NYA. Bahkan kecintaan kepada Ahlul Bait termasuk bagian dari kesempurnaan iman dan sebaliknya. Sebagain orang yang tidak mengerti cenderung memahami Ahlul Bait dengan pemikiran yang picik dan tidak sesuai dengan maksud yang sebenarnya. Hal itu disebabkan karena kurang mengenal sejarah Islam dengan baik ataupun sejarah yang sampai kepada kita tidak memberikan perhatian tentang siapa dan mengapa Ahlul Bait. Tidak sahnya shalat tanpa menyebut kemuliaan Ahlul Bait adalah merupakan bukti betapa penting kedudukan Ahlul Bait untuk diketahui dan diperkenalkan kepada segenap umat. Walaupun semua ulama mazhab sepakat mengenai hal ini, tetapi mereka berbeda pendapat mengenai batasan-batasan siapa saja yang termasuk Ahlul Bait. “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, hai Ahlulbait, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.” (QS. al-Ahzab : 33) Itulah keluarga yang disucikan Allah. Itulah Ahlul Bait. Itulah keluarga Nabi Saw. Tapi, siapakah tepatnya Ahlul Bait itu? Siapa saja yang termasuk kategori Ahlul Bait seperti yang dimaksud dalam surah al-Ahzab ayat (33) tersebut? Pendapat Para Ulama Pemikiran-pemikiran serta tafsir tentang sipakah Ahlul Bait yang termaktub dalam Al-Qur’an al-Karim surah al-Ahzab (33) banyak sekali hingga terbagi ke dalam tujuh kelompok. Jika kita telaah pendapat-pendapat para ulama tersebut, maka kita dapat menyederhanakan pendapat tersebut menjadi tiga kelompok, yaitu: Kelompok Pertama: Pendapat bahwa para istri Nabi termasuk Ahlul Bait, baik semata-mata atau bersama Ashabul Kisa atau seluruh Bani Hasyim. Kelompok Kedua: Pendapat bahwa yang termasuk Ahlul Bait adalah Ashabul Kisa, juga Bani Hasyim (Yaitu orang-orang yang diharamkan menerima santunan sedekah), seperti keluarga “Abbas, keluarga’Agil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Ali Karramullahu Wajhah. Kelompok Ketiga: Pendapat bahwa hanya Ashabul Kisa saja, Yaitu Rasulullah saw, ‘Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein—salawat dan salam sejahtera untuk mereka yang termasuk Ahlul Bait. Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Ummul Mukminin Aisyah ra yang berkata, “Suatu ketika Nabi mengeluarkan selimut dari bulu yang berwarna hitam. Tiba-tiba datanglah Hasan bin Ali, lalu Nabi memasukkan dia ke dalamnya. Lalu datanglah Husein bin Ali dan masuk pula bersama Hasan ke dalamnya. Lalu datang lagi Fathimah. Ia juga masuk ke dalamnya. Lalu datang Ali bin Abi Thalib, dan Nabi pun memasukkan dia ke dalamnya. Kemudian Nabi membaca firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kalian sesuci-sucinya.” Ahlul Bait sepanjang sejarahnya adalah merupakan gambaran sempurna bagi masyarakat Islam yang ideal. Tatanan masyarakat Islam dalam kerangka Ahlul Bait ialah yang meletakkan cinta dalam bingkainya yang agung. Ia menjadi insiprasi dan sumber kekuatan, tetap ada dan terus disegarkan. Ahlu Bait adalah madrasah nubuwwah, kalau masyarakat itu terbentuk dari kumpulan-kumpulan keluarga, maka Ahlul Bait adalah contoh terbaik dari semua keluarga. Cinta kepada Nabi dan Ahlul Bait sudah ada sejak hari-hari pertama dalam sejarah Islam, baik oleh al-Qur’an, oleh Hadis, maupun oleh akhlak dan tingkah laku Nabi dan karena pergaulan yang mesra dengan Rasulullah saw. Hubungan kecintaan ini dikuatkan oleh rasa senasib dan seperjuangan dalam membela Islam. Ajaran-ajaran Nabi menghilangkan asabiyah, rasa kebanggaan suku dan keturunan, sudah berganti dengan persaudaran yang kokoh sepanjang ajaran iman dan tauhid dan terwujudkan dalam kecintaan kepada Ahlul Baitnya. Sahabat-sahabat Nabi saw merasa lebih bangga disebut muslim daripada sebutan nama sukunya. Semua mereka mencintai Nabi sebagai pemimpinnya dan Ahlul Bait sebagai pengasuh, sehingga istri-istri Nabi digelarkan “ibu orang-orang beriman”. Tidak seorang muslim pun yang dapat meragukan betapa besar cintanya Khalifah Abu Bakar kepada Nabi saw dan Ahlul Baitnya. Begitu pula Imam Syafi’i kepada Ahlul Bait sudah umum ketahui orang. Ia mabuk dalam kecintaan ini demikian rupa, sehingga acapkali ia dinamakan Rafidhi. Imam Syafi’i berpendapat bahwa mencintai Ahlul Bait tidak usah diartikan membenci, apalagi mendendam kepada sahabat-sahabat Nabi yang lain. Pernah ditanya Imam Syafi’i tentang Imam Ali bin Abi Thalib dalam masa itu. Ia lalu menjawab : “Aku tidak akan berbicara tentang seorang tokoh, yang oleh teman-temannya dirahasiakan sejarah hidupnya, dan oleh musuh-musuhnya disimpan karena amarah. Kecintaan ini meluap-luap tiap masa dan tempat bahkan terdapat dalam kalangan yang memusuhinya sekali pun. Apa inikah sebabnya, maka para pencintanya memenuhi Timur dan Barat ? Perintah Mencintai Ahlul Bait “ Katakanlah (wahai Muhammad kepada kaummu ), ‘Aku tidak meminta kepada kalian suatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada al-Qurba (Ahlul Bait).QS. Asyu’araa’:23 Marilah kita membuka al-Qur’an yang menceritakan kejadian para nabi terdahulu tatkala menyampaikan seruan Ilahi kepada kaumnya. Nabi Nuh as berkata kepada umatnya : “Dan , ‘Hai kaumku, aku tidak meminta harta benda kepada kalian (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanya dari Allah semata.QS. Hud: 29 Nabi Saleh as berkata kepada umatnya : “Dan sekali-kali aku tidak meminta upah kepada kalian atas ajakanku itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.QS. Asy-Syu’araa’: 145 Nabi Luth as berkata kepada umatnya : “Dan sekali-kali aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakanku itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.QS. Asy-Syu’araa’: 164 Nabi Syuaib as berkata kepada umatnya : “Dan sekali-kali aku tidak meminta upah atas ajakanku. Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.QS. Asy-Syu’araa’: 180 Dari penjelasan-penjelas an di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa para nabi terdahulu—sebelum Nabi Muhammad saw—dalam menyampaikan seruan Ilahi, tidak mengharapkan upah dari kaumnya melainkan semata-mata hanya dari Allah, Tuhan semesta alam. Ini berbeda dengan Nabi Muhammad saw. Beliau meminta upah dari umatnya berupa cinta dan kasih sayang terhadap Ahlul Baitnya atas ajaran yang ia sampaikan melalui suatu perjuangan keras yang membutuhkan ketabahan dan kesabaran luar biasa. Jadi mencintai Ahlul Bait sama artinya dengan mencintai Rasulullah saw dan pada gilirannya sama artinya dengan mencintai Allah. Teladanilah jejak suci mereka agar kita menjadi umat yang tahu dan pandai bersyukur. Wallahu A’lam. Sumber : http://pondokhabib. wordpress. com
Tuesday, March 30, 2010
Wahai para cucu Nabi S.A.W
Siapa yang tak menempuh jalan leluhurnya
Syair Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi
Siapa tak menempuh jalan leluhurnya, pasti ‘kan bingung dan sesat.
Wahai para cucu Nabi, tempuhlah jalan mereka.
Tempuhlah jalan lurus dan jauhilah segala bid’ah.
Pergilah bersama yang mencintai dan mentaati Allah.
Dalam beramal dan menahan diri, teladanilah mereka tapak demi tapak.
Berkat para salafmu, kau ‘kan mendapat banyak manfaat.
Luas, agung dan mulia budi pekerti mereka.
Dalam thoriqohnya, takkan kau dapati perselisihan atau sengketa.
Dengan penuh semangat, beramallah mereka dengan tulus.
Meningkatlah kedudukan mereka, tinggi dan mulia.
Tak mereka diamkan yang haus dalam kehausannya dan yang lapar dalam kelaparannya.
Dengan pekerti luhur, mereka usahakan jalan ‘tuk mengatasinya.
Dengan amal saleh, mereka muliakan masjid dan muka bumi.
Bergegas menyambut seruan manusia yang mereka cintai dan taati.
Yaitu sebaik-baiknya Nabi dan semulia-mulianya pemberi petunjuk dan dai.
Ketika beliau berdakwah kepada mereka, mereka pun mendengarkannya sepenuh hati.
Dengan semangat mereka berusaha ‘tuk segera meraih kedudukan mulia.
Tanpa angin atau layar, perahu pun berangkat berkat mereka.
Tetapi dengan inayah Allah perahu berlayar dengan taat, tak menentang.
Anugrah Allah ini dikhususkan untuk mereka yang patuh, tak membangkang.
Demikianlah ucapanku ini dan yang semisal ini selalu sedap di telinga.
Dengarkan dan pahamilah syair ini, didalamnya terhimpun segalanya.
Hiruplah keharuman ini, karena ia tersebar di antara ahlinya.
Ya Allah, aku datang ke hadirat-Mu dengan suatu maksud dan tujuan.
Aku mengakui kelemahan, ketidaksempurnaan dan ketidakkuasaanku,
maka sempurnakanlah kekuranganku karena ‘ku memang tak sempurna.
Tiada sandaran bagiku kecuali beliau yang keharuman namanya tersebar memenuhi alam semesta,
sebaik-baiknya Nabi yang cahayanya meredupkan segala cahaya.
[Diambil dari Ulama Hadramaut, Al-Habib Umar Bin Hafidz, cetakan I, penerbit Putera Riyadi Solo]
Syair Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi
Siapa tak menempuh jalan leluhurnya, pasti ‘kan bingung dan sesat.
Wahai para cucu Nabi, tempuhlah jalan mereka.
Tempuhlah jalan lurus dan jauhilah segala bid’ah.
Pergilah bersama yang mencintai dan mentaati Allah.
Dalam beramal dan menahan diri, teladanilah mereka tapak demi tapak.
Berkat para salafmu, kau ‘kan mendapat banyak manfaat.
Luas, agung dan mulia budi pekerti mereka.
Dalam thoriqohnya, takkan kau dapati perselisihan atau sengketa.
Dengan penuh semangat, beramallah mereka dengan tulus.
Meningkatlah kedudukan mereka, tinggi dan mulia.
Tak mereka diamkan yang haus dalam kehausannya dan yang lapar dalam kelaparannya.
Dengan pekerti luhur, mereka usahakan jalan ‘tuk mengatasinya.
Dengan amal saleh, mereka muliakan masjid dan muka bumi.
Bergegas menyambut seruan manusia yang mereka cintai dan taati.
Yaitu sebaik-baiknya Nabi dan semulia-mulianya pemberi petunjuk dan dai.
Ketika beliau berdakwah kepada mereka, mereka pun mendengarkannya sepenuh hati.
Dengan semangat mereka berusaha ‘tuk segera meraih kedudukan mulia.
Tanpa angin atau layar, perahu pun berangkat berkat mereka.
Tetapi dengan inayah Allah perahu berlayar dengan taat, tak menentang.
Anugrah Allah ini dikhususkan untuk mereka yang patuh, tak membangkang.
Demikianlah ucapanku ini dan yang semisal ini selalu sedap di telinga.
Dengarkan dan pahamilah syair ini, didalamnya terhimpun segalanya.
Hiruplah keharuman ini, karena ia tersebar di antara ahlinya.
Ya Allah, aku datang ke hadirat-Mu dengan suatu maksud dan tujuan.
Aku mengakui kelemahan, ketidaksempurnaan dan ketidakkuasaanku,
maka sempurnakanlah kekuranganku karena ‘ku memang tak sempurna.
Tiada sandaran bagiku kecuali beliau yang keharuman namanya tersebar memenuhi alam semesta,
sebaik-baiknya Nabi yang cahayanya meredupkan segala cahaya.
[Diambil dari Ulama Hadramaut, Al-Habib Umar Bin Hafidz, cetakan I, penerbit Putera Riyadi Solo]
Mi'raj & syubhah tempat bagi Allah
Mi'raj & syubhah tempat bagi Allah
Bercerita tentang mi'raj Junjungan Nabi SAW, maka kerap-kali berlaku salahfaham pada segelintir masyarakat, di mana sesetengah "pendakwah" menggunakan peristiwa ini sebagai hujjah bahawa Allah ta'ala itu bertempat dan berarah, subhanAllah. Sedangkan mi'raj itu adalah sesuatu yang dialami oleh seorang hambaNya yang paling utama, Junjungan Nabi SAW, yang bermi'raj itu adalah baginda, Allah adalah yang memi'rajkan baginda. Maka yang bertempat dan yang mengambil tempat itu adalah hamba, dan sekali-kali bukan Allah SWT yang mengambil tempat. Di sinilah kita kena membezakan isyarat kepada makanah (darjat kedudukan) dan kepada makan (tempat).
Jika dikatakan tatkala Junjungan Nabi naik ke langit, maka kedudukan baginda menjadi lebih hampir kepada Tuhan, maka persoalannya ialah adakah dengan keberadaan baginda di bumi setelah mi'raj itu menjadikan baginda berada lebih jauh dari Tuhan? Sudah tentu tidak, kerana wujudnya Allah tidak bertempat, tidak berjarak, tidak berarah, wujudnya Allah berbeza dan menyalahi segala yang baharu. Sama juga dengan keadaannya jika dibuat perbandingan dengan peristiwa Nabi Yunus AS yang ditelan ikan dan dibawa ke dasar lautan. Jika Tuhan itu bertempat di langit, maka adakah dengan beradanya Nabi Yunus di dasar lautan itu baginda berada jauh dari Tuhan? Sungguh Allah sentiasa dekat dengan hamba-hambaNya yang sholeh dengan rahmatNya dan kasihsayangNya. Juga dekat dengan hamba-hambaNya yang derhaka dengan kemurkaan dan seksaanNya.
Prof. Dr. al-Muhaddits Habib Muhammad bin `Alawi bin `Abbas bin `Abdul `Aziz al-Maliki al-Hasani rahimahumUllah, adalah antara ulama yang memperjelaskan waham yang ditimbulkan oleh puak yang menempatkan Allah di sesuatu tempat, subhanAllah. Dalam karya beliau yang berjodol "Wa Huwa bil Ufuqil A'laa", beliau rahimahUllah menyatakan sebagai berikut:-
Tidak sepatutnya seseorang muslim yang mendengar kisah mi'raj mengenai naik dan turunnya Junjungan Nabi SAW ke langit, untuk menyangka bahawa antara hamba dan TuhanNya terdapat jarak yang tertentu yang dapat dijangkau, kerana sangkaan yang sedemikian adalah suatu kekufuran, yang mana kita berlindung dengan Allah daripadanya. Bahawasanya naik dan turun ini hanya dinisbahkan kepada hamba (yakni Junjungan Nabi SAW) dan bukannya kepada Tuhan. Meskipun Junjungan Nabi SAW pada malam isra' tersebut berkesudahan dengan mencapai jarak kedudukan seumpama dua anak panah atau lebih hampir lagi, tetap baginda tidak melepasi maqam / kedudukan seorang hamba. Dan keadaan baginda dengan Nabi Yunus bin Matta AS ketika ditelan ikan serta dibawanya ke lautan lepas sehingga ke dasar lautan adalah sama, dalam hal ketiadaan jarak bagi Allah dengan ciptaanNya, ketiadaan arah, ketiadaan mengambil tempat, ketiadaan had pembatas, dan ketiadaan dapat dijangkau (yakni bukanlah artinya bila Junjungan Nabi SAW mi'raj ke atas maka baginda lebih hampir kepada Tuhan berbanding Nabi Yunus yang dibawa ikan ke dasar lautan dari segi tempat dan jarak - satu di atas dan satu di bawah - kerana Allah tidak bertempat sehingga boleh didekati atau dihampiri dengan diputuskan jarak yang tertentu.) Dan telah dikatakan oleh segelintir ulama, bahawa ikan tersebut telah membawa Nabi Yunus sejauh perjalanan 6,000 tahun, sebagaimana disebut oleh Imam al-Baghawi dan selainnya. Apabila telah engkau ketahui yang sedemikian, maka yang dikehendaki dengan naiknya Junjungan Nabi SAW dan menempuhnya baginda jarak yang jauh tersebut adalah untuk menzahirkan / menyatakan kedudukan baginda kepada penghuni langit dan menyatakan bahawasanya bagindalah makhluk Allah yang paling utama. Pengertian ini diperkuatkan lagi dengan dijadikan buraq sebagai tunggangan baginda, lalu dihubungkan bagi baginda akan mi'raj (alat untuk naik ke langit), dijadikan baginda imam bagi para nabi dan malaikat, sedangkan Allah ta'ala berkuasa untuk mengangkat baginda tanpa buraq dan mi'raj.
Maka diisra` dan dimi`rajkan Junjungan Nabi SAW dengan menggunakan makhluk seperti buraq dan mi'raj adalah untuk menzahirkan kemuliaan dan ketinggian baginda di antara sekalian makhluk. Inilah hakikat sebenar mi'raj Junjungan SAW ke langit, agar dipersaksikan kepada segala penghuni langit akan darjat ketinggiannya penghulu sekalian makhluk. Tidaklah ia menunjukkan Allah berada di sesuatu tempat, Maha Suci Allah daripada mengambil faedah dari makhlukNya dan Maha Suci Ia daripada mengambil bagi lapang. รถ
http://bahrusshofa.blogspo t.com/
--------------------------
----------
Himpunan artikel-artikel menarik berkaitan Ahlul Bait klik : http://ahlulbait.blogdrive .com dan http://pondokhabib.wordpre ss.com
Sabda Nabi s.a.w. dari Abu Zar r.a. katanya: "Ketahuilah bahawa perumpamaan Ahli Baitku di tengah-tengah kamu seperti bahtera Nuh di tengah-tengah kaumnya, siapa yang menaikinya ia selamat dan siapa yang enggan pasti tenggelam". Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Hakim, Ibnu Jarir dan At-Tabarani dalam kitab Al-Kabir.
Bercerita tentang mi'raj Junjungan Nabi SAW, maka kerap-kali berlaku salahfaham pada segelintir masyarakat, di mana sesetengah "pendakwah" menggunakan peristiwa ini sebagai hujjah bahawa Allah ta'ala itu bertempat dan berarah, subhanAllah. Sedangkan mi'raj itu adalah sesuatu yang dialami oleh seorang hambaNya yang paling utama, Junjungan Nabi SAW, yang bermi'raj itu adalah baginda, Allah adalah yang memi'rajkan baginda. Maka yang bertempat dan yang mengambil tempat itu adalah hamba, dan sekali-kali bukan Allah SWT yang mengambil tempat. Di sinilah kita kena membezakan isyarat kepada makanah (darjat kedudukan) dan kepada makan (tempat).
Jika dikatakan tatkala Junjungan Nabi naik ke langit, maka kedudukan baginda menjadi lebih hampir kepada Tuhan, maka persoalannya ialah adakah dengan keberadaan baginda di bumi setelah mi'raj itu menjadikan baginda berada lebih jauh dari Tuhan? Sudah tentu tidak, kerana wujudnya Allah tidak bertempat, tidak berjarak, tidak berarah, wujudnya Allah berbeza dan menyalahi segala yang baharu. Sama juga dengan keadaannya jika dibuat perbandingan dengan peristiwa Nabi Yunus AS yang ditelan ikan dan dibawa ke dasar lautan. Jika Tuhan itu bertempat di langit, maka adakah dengan beradanya Nabi Yunus di dasar lautan itu baginda berada jauh dari Tuhan? Sungguh Allah sentiasa dekat dengan hamba-hambaNya yang sholeh dengan rahmatNya dan kasihsayangNya. Juga dekat dengan hamba-hambaNya yang derhaka dengan kemurkaan dan seksaanNya.
Prof. Dr. al-Muhaddits Habib Muhammad bin `Alawi bin `Abbas bin `Abdul `Aziz al-Maliki al-Hasani rahimahumUllah, adalah antara ulama yang memperjelaskan waham yang ditimbulkan oleh puak yang menempatkan Allah di sesuatu tempat, subhanAllah. Dalam karya beliau yang berjodol "Wa Huwa bil Ufuqil A'laa", beliau rahimahUllah menyatakan sebagai berikut:-
Tidak sepatutnya seseorang muslim yang mendengar kisah mi'raj mengenai naik dan turunnya Junjungan Nabi SAW ke langit, untuk menyangka bahawa antara hamba dan TuhanNya terdapat jarak yang tertentu yang dapat dijangkau, kerana sangkaan yang sedemikian adalah suatu kekufuran, yang mana kita berlindung dengan Allah daripadanya. Bahawasanya naik dan turun ini hanya dinisbahkan kepada hamba (yakni Junjungan Nabi SAW) dan bukannya kepada Tuhan. Meskipun Junjungan Nabi SAW pada malam isra' tersebut berkesudahan dengan mencapai jarak kedudukan seumpama dua anak panah atau lebih hampir lagi, tetap baginda tidak melepasi maqam / kedudukan seorang hamba. Dan keadaan baginda dengan Nabi Yunus bin Matta AS ketika ditelan ikan serta dibawanya ke lautan lepas sehingga ke dasar lautan adalah sama, dalam hal ketiadaan jarak bagi Allah dengan ciptaanNya, ketiadaan arah, ketiadaan mengambil tempat, ketiadaan had pembatas, dan ketiadaan dapat dijangkau (yakni bukanlah artinya bila Junjungan Nabi SAW mi'raj ke atas maka baginda lebih hampir kepada Tuhan berbanding Nabi Yunus yang dibawa ikan ke dasar lautan dari segi tempat dan jarak - satu di atas dan satu di bawah - kerana Allah tidak bertempat sehingga boleh didekati atau dihampiri dengan diputuskan jarak yang tertentu.) Dan telah dikatakan oleh segelintir ulama, bahawa ikan tersebut telah membawa Nabi Yunus sejauh perjalanan 6,000 tahun, sebagaimana disebut oleh Imam al-Baghawi dan selainnya. Apabila telah engkau ketahui yang sedemikian, maka yang dikehendaki dengan naiknya Junjungan Nabi SAW dan menempuhnya baginda jarak yang jauh tersebut adalah untuk menzahirkan / menyatakan kedudukan baginda kepada penghuni langit dan menyatakan bahawasanya bagindalah makhluk Allah yang paling utama. Pengertian ini diperkuatkan lagi dengan dijadikan buraq sebagai tunggangan baginda, lalu dihubungkan bagi baginda akan mi'raj (alat untuk naik ke langit), dijadikan baginda imam bagi para nabi dan malaikat, sedangkan Allah ta'ala berkuasa untuk mengangkat baginda tanpa buraq dan mi'raj.
Maka diisra` dan dimi`rajkan Junjungan Nabi SAW dengan menggunakan makhluk seperti buraq dan mi'raj adalah untuk menzahirkan kemuliaan dan ketinggian baginda di antara sekalian makhluk. Inilah hakikat sebenar mi'raj Junjungan SAW ke langit, agar dipersaksikan kepada segala penghuni langit akan darjat ketinggiannya penghulu sekalian makhluk. Tidaklah ia menunjukkan Allah berada di sesuatu tempat, Maha Suci Allah daripada mengambil faedah dari makhlukNya dan Maha Suci Ia daripada mengambil bagi lapang. รถ
http://bahrusshofa.blogspo
--------------------------
Himpunan artikel-artikel menarik berkaitan Ahlul Bait klik : http://ahlulbait.blogdrive
Sabda Nabi s.a.w. dari Abu Zar r.a. katanya: "Ketahuilah bahawa perumpamaan Ahli Baitku di tengah-tengah kamu seperti bahtera Nuh di tengah-tengah kaumnya, siapa yang menaikinya ia selamat dan siapa yang enggan pasti tenggelam". Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Hakim, Ibnu Jarir dan At-Tabarani dalam kitab Al-Kabir.
Subscribe to:
Posts (Atom)
