AHLUL BAIT TELADAN SEMPURNA Bismillaah, walhamdu lillah, wash-shalaatu was salaamu ‘ala rasulillah wa’ala aalihi wa man waalah, amma ba’du. Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT Tuhan semesta alam. Salawat dan salam sejahtera untuk Rasul penghulu umat Sayidina Muhammad saw serta Ahlul Baitnya yang suci dari dosa. Salam sejahtera untuk para sahabat-sahabat yang tulus, ikhlas dalam menghadapi cobaan dan derita dan menjadi teladan demi terwujudnya Panji “La ilaha Illallah”. Ahlul Bait adalah sebuah kata yang mana Alllah dan Rasul-NYA memberikan suatu makna khusus, kekhususan ini bukanlah suatu hal yang mustahil apabila Allah Swt berkehendak dan Allah mustahil memerintahkan suatu pengkultusan yang mencemari iman dan tauhid. Kecintaan kepada mereka diperintahkan kepada umat Islam karena Allah sendiri yang memuji mereka dalam ayat-ayat-NYA. Bahkan kecintaan kepada Ahlul Bait termasuk bagian dari kesempurnaan iman dan sebaliknya. Sebagain orang yang tidak mengerti cenderung memahami Ahlul Bait dengan pemikiran yang picik dan tidak sesuai dengan maksud yang sebenarnya. Hal itu disebabkan karena kurang mengenal sejarah Islam dengan baik ataupun sejarah yang sampai kepada kita tidak memberikan perhatian tentang siapa dan mengapa Ahlul Bait. Tidak sahnya shalat tanpa menyebut kemuliaan Ahlul Bait adalah merupakan bukti betapa penting kedudukan Ahlul Bait untuk diketahui dan diperkenalkan kepada segenap umat. Walaupun semua ulama mazhab sepakat mengenai hal ini, tetapi mereka berbeda pendapat mengenai batasan-batasan siapa saja yang termasuk Ahlul Bait. “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, hai Ahlulbait, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.” (QS. al-Ahzab : 33) Itulah keluarga yang disucikan Allah. Itulah Ahlul Bait. Itulah keluarga Nabi Saw. Tapi, siapakah tepatnya Ahlul Bait itu? Siapa saja yang termasuk kategori Ahlul Bait seperti yang dimaksud dalam surah al-Ahzab ayat (33) tersebut? Pendapat Para Ulama Pemikiran-pemikiran serta tafsir tentang sipakah Ahlul Bait yang termaktub dalam Al-Qur’an al-Karim surah al-Ahzab (33) banyak sekali hingga terbagi ke dalam tujuh kelompok. Jika kita telaah pendapat-pendapat para ulama tersebut, maka kita dapat menyederhanakan pendapat tersebut menjadi tiga kelompok, yaitu: Kelompok Pertama: Pendapat bahwa para istri Nabi termasuk Ahlul Bait, baik semata-mata atau bersama Ashabul Kisa atau seluruh Bani Hasyim. Kelompok Kedua: Pendapat bahwa yang termasuk Ahlul Bait adalah Ashabul Kisa, juga Bani Hasyim (Yaitu orang-orang yang diharamkan menerima santunan sedekah), seperti keluarga “Abbas, keluarga’Agil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Ali Karramullahu Wajhah. Kelompok Ketiga: Pendapat bahwa hanya Ashabul Kisa saja, Yaitu Rasulullah saw, ‘Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein—salawat dan salam sejahtera untuk mereka yang termasuk Ahlul Bait. Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Ummul Mukminin Aisyah ra yang berkata, “Suatu ketika Nabi mengeluarkan selimut dari bulu yang berwarna hitam. Tiba-tiba datanglah Hasan bin Ali, lalu Nabi memasukkan dia ke dalamnya. Lalu datanglah Husein bin Ali dan masuk pula bersama Hasan ke dalamnya. Lalu datang lagi Fathimah. Ia juga masuk ke dalamnya. Lalu datang Ali bin Abi Thalib, dan Nabi pun memasukkan dia ke dalamnya. Kemudian Nabi membaca firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kalian sesuci-sucinya.” Ahlul Bait sepanjang sejarahnya adalah merupakan gambaran sempurna bagi masyarakat Islam yang ideal. Tatanan masyarakat Islam dalam kerangka Ahlul Bait ialah yang meletakkan cinta dalam bingkainya yang agung. Ia menjadi insiprasi dan sumber kekuatan, tetap ada dan terus disegarkan. Ahlu Bait adalah madrasah nubuwwah, kalau masyarakat itu terbentuk dari kumpulan-kumpulan keluarga, maka Ahlul Bait adalah contoh terbaik dari semua keluarga. Cinta kepada Nabi dan Ahlul Bait sudah ada sejak hari-hari pertama dalam sejarah Islam, baik oleh al-Qur’an, oleh Hadis, maupun oleh akhlak dan tingkah laku Nabi dan karena pergaulan yang mesra dengan Rasulullah saw. Hubungan kecintaan ini dikuatkan oleh rasa senasib dan seperjuangan dalam membela Islam. Ajaran-ajaran Nabi menghilangkan asabiyah, rasa kebanggaan suku dan keturunan, sudah berganti dengan persaudaran yang kokoh sepanjang ajaran iman dan tauhid dan terwujudkan dalam kecintaan kepada Ahlul Baitnya. Sahabat-sahabat Nabi saw merasa lebih bangga disebut muslim daripada sebutan nama sukunya. Semua mereka mencintai Nabi sebagai pemimpinnya dan Ahlul Bait sebagai pengasuh, sehingga istri-istri Nabi digelarkan “ibu orang-orang beriman”. Tidak seorang muslim pun yang dapat meragukan betapa besar cintanya Khalifah Abu Bakar kepada Nabi saw dan Ahlul Baitnya. Begitu pula Imam Syafi’i kepada Ahlul Bait sudah umum ketahui orang. Ia mabuk dalam kecintaan ini demikian rupa, sehingga acapkali ia dinamakan Rafidhi. Imam Syafi’i berpendapat bahwa mencintai Ahlul Bait tidak usah diartikan membenci, apalagi mendendam kepada sahabat-sahabat Nabi yang lain. Pernah ditanya Imam Syafi’i tentang Imam Ali bin Abi Thalib dalam masa itu. Ia lalu menjawab : “Aku tidak akan berbicara tentang seorang tokoh, yang oleh teman-temannya dirahasiakan sejarah hidupnya, dan oleh musuh-musuhnya disimpan karena amarah. Kecintaan ini meluap-luap tiap masa dan tempat bahkan terdapat dalam kalangan yang memusuhinya sekali pun. Apa inikah sebabnya, maka para pencintanya memenuhi Timur dan Barat ? Perintah Mencintai Ahlul Bait “ Katakanlah (wahai Muhammad kepada kaummu ), ‘Aku tidak meminta kepada kalian suatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada al-Qurba (Ahlul Bait).QS. Asyu’araa’:23 Marilah kita membuka al-Qur’an yang menceritakan kejadian para nabi terdahulu tatkala menyampaikan seruan Ilahi kepada kaumnya. Nabi Nuh as berkata kepada umatnya : “Dan , ‘Hai kaumku, aku tidak meminta harta benda kepada kalian (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanya dari Allah semata.QS. Hud: 29 Nabi Saleh as berkata kepada umatnya : “Dan sekali-kali aku tidak meminta upah kepada kalian atas ajakanku itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.QS. Asy-Syu’araa’: 145 Nabi Luth as berkata kepada umatnya : “Dan sekali-kali aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakanku itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.QS. Asy-Syu’araa’: 164 Nabi Syuaib as berkata kepada umatnya : “Dan sekali-kali aku tidak meminta upah atas ajakanku. Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.QS. Asy-Syu’araa’: 180 Dari penjelasan-penjelas an di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa para nabi terdahulu—sebelum Nabi Muhammad saw—dalam menyampaikan seruan Ilahi, tidak mengharapkan upah dari kaumnya melainkan semata-mata hanya dari Allah, Tuhan semesta alam. Ini berbeda dengan Nabi Muhammad saw. Beliau meminta upah dari umatnya berupa cinta dan kasih sayang terhadap Ahlul Baitnya atas ajaran yang ia sampaikan melalui suatu perjuangan keras yang membutuhkan ketabahan dan kesabaran luar biasa. Jadi mencintai Ahlul Bait sama artinya dengan mencintai Rasulullah saw dan pada gilirannya sama artinya dengan mencintai Allah. Teladanilah jejak suci mereka agar kita menjadi umat yang tahu dan pandai bersyukur. Wallahu A’lam. Sumber : http://pondokhabib. wordpress. com
Tuesday, March 30, 2010
Wahai para cucu Nabi S.A.W
Siapa yang tak menempuh jalan leluhurnya
Syair Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi
Siapa tak menempuh jalan leluhurnya, pasti ‘kan bingung dan sesat.
Wahai para cucu Nabi, tempuhlah jalan mereka.
Tempuhlah jalan lurus dan jauhilah segala bid’ah.
Pergilah bersama yang mencintai dan mentaati Allah.
Dalam beramal dan menahan diri, teladanilah mereka tapak demi tapak.
Berkat para salafmu, kau ‘kan mendapat banyak manfaat.
Luas, agung dan mulia budi pekerti mereka.
Dalam thoriqohnya, takkan kau dapati perselisihan atau sengketa.
Dengan penuh semangat, beramallah mereka dengan tulus.
Meningkatlah kedudukan mereka, tinggi dan mulia.
Tak mereka diamkan yang haus dalam kehausannya dan yang lapar dalam kelaparannya.
Dengan pekerti luhur, mereka usahakan jalan ‘tuk mengatasinya.
Dengan amal saleh, mereka muliakan masjid dan muka bumi.
Bergegas menyambut seruan manusia yang mereka cintai dan taati.
Yaitu sebaik-baiknya Nabi dan semulia-mulianya pemberi petunjuk dan dai.
Ketika beliau berdakwah kepada mereka, mereka pun mendengarkannya sepenuh hati.
Dengan semangat mereka berusaha ‘tuk segera meraih kedudukan mulia.
Tanpa angin atau layar, perahu pun berangkat berkat mereka.
Tetapi dengan inayah Allah perahu berlayar dengan taat, tak menentang.
Anugrah Allah ini dikhususkan untuk mereka yang patuh, tak membangkang.
Demikianlah ucapanku ini dan yang semisal ini selalu sedap di telinga.
Dengarkan dan pahamilah syair ini, didalamnya terhimpun segalanya.
Hiruplah keharuman ini, karena ia tersebar di antara ahlinya.
Ya Allah, aku datang ke hadirat-Mu dengan suatu maksud dan tujuan.
Aku mengakui kelemahan, ketidaksempurnaan dan ketidakkuasaanku,
maka sempurnakanlah kekuranganku karena ‘ku memang tak sempurna.
Tiada sandaran bagiku kecuali beliau yang keharuman namanya tersebar memenuhi alam semesta,
sebaik-baiknya Nabi yang cahayanya meredupkan segala cahaya.
[Diambil dari Ulama Hadramaut, Al-Habib Umar Bin Hafidz, cetakan I, penerbit Putera Riyadi Solo]
Syair Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi
Siapa tak menempuh jalan leluhurnya, pasti ‘kan bingung dan sesat.
Wahai para cucu Nabi, tempuhlah jalan mereka.
Tempuhlah jalan lurus dan jauhilah segala bid’ah.
Pergilah bersama yang mencintai dan mentaati Allah.
Dalam beramal dan menahan diri, teladanilah mereka tapak demi tapak.
Berkat para salafmu, kau ‘kan mendapat banyak manfaat.
Luas, agung dan mulia budi pekerti mereka.
Dalam thoriqohnya, takkan kau dapati perselisihan atau sengketa.
Dengan penuh semangat, beramallah mereka dengan tulus.
Meningkatlah kedudukan mereka, tinggi dan mulia.
Tak mereka diamkan yang haus dalam kehausannya dan yang lapar dalam kelaparannya.
Dengan pekerti luhur, mereka usahakan jalan ‘tuk mengatasinya.
Dengan amal saleh, mereka muliakan masjid dan muka bumi.
Bergegas menyambut seruan manusia yang mereka cintai dan taati.
Yaitu sebaik-baiknya Nabi dan semulia-mulianya pemberi petunjuk dan dai.
Ketika beliau berdakwah kepada mereka, mereka pun mendengarkannya sepenuh hati.
Dengan semangat mereka berusaha ‘tuk segera meraih kedudukan mulia.
Tanpa angin atau layar, perahu pun berangkat berkat mereka.
Tetapi dengan inayah Allah perahu berlayar dengan taat, tak menentang.
Anugrah Allah ini dikhususkan untuk mereka yang patuh, tak membangkang.
Demikianlah ucapanku ini dan yang semisal ini selalu sedap di telinga.
Dengarkan dan pahamilah syair ini, didalamnya terhimpun segalanya.
Hiruplah keharuman ini, karena ia tersebar di antara ahlinya.
Ya Allah, aku datang ke hadirat-Mu dengan suatu maksud dan tujuan.
Aku mengakui kelemahan, ketidaksempurnaan dan ketidakkuasaanku,
maka sempurnakanlah kekuranganku karena ‘ku memang tak sempurna.
Tiada sandaran bagiku kecuali beliau yang keharuman namanya tersebar memenuhi alam semesta,
sebaik-baiknya Nabi yang cahayanya meredupkan segala cahaya.
[Diambil dari Ulama Hadramaut, Al-Habib Umar Bin Hafidz, cetakan I, penerbit Putera Riyadi Solo]
Mi'raj & syubhah tempat bagi Allah
Mi'raj & syubhah tempat bagi Allah
Bercerita tentang mi'raj Junjungan Nabi SAW, maka kerap-kali berlaku salahfaham pada segelintir masyarakat, di mana sesetengah "pendakwah" menggunakan peristiwa ini sebagai hujjah bahawa Allah ta'ala itu bertempat dan berarah, subhanAllah. Sedangkan mi'raj itu adalah sesuatu yang dialami oleh seorang hambaNya yang paling utama, Junjungan Nabi SAW, yang bermi'raj itu adalah baginda, Allah adalah yang memi'rajkan baginda. Maka yang bertempat dan yang mengambil tempat itu adalah hamba, dan sekali-kali bukan Allah SWT yang mengambil tempat. Di sinilah kita kena membezakan isyarat kepada makanah (darjat kedudukan) dan kepada makan (tempat).
Jika dikatakan tatkala Junjungan Nabi naik ke langit, maka kedudukan baginda menjadi lebih hampir kepada Tuhan, maka persoalannya ialah adakah dengan keberadaan baginda di bumi setelah mi'raj itu menjadikan baginda berada lebih jauh dari Tuhan? Sudah tentu tidak, kerana wujudnya Allah tidak bertempat, tidak berjarak, tidak berarah, wujudnya Allah berbeza dan menyalahi segala yang baharu. Sama juga dengan keadaannya jika dibuat perbandingan dengan peristiwa Nabi Yunus AS yang ditelan ikan dan dibawa ke dasar lautan. Jika Tuhan itu bertempat di langit, maka adakah dengan beradanya Nabi Yunus di dasar lautan itu baginda berada jauh dari Tuhan? Sungguh Allah sentiasa dekat dengan hamba-hambaNya yang sholeh dengan rahmatNya dan kasihsayangNya. Juga dekat dengan hamba-hambaNya yang derhaka dengan kemurkaan dan seksaanNya.
Prof. Dr. al-Muhaddits Habib Muhammad bin `Alawi bin `Abbas bin `Abdul `Aziz al-Maliki al-Hasani rahimahumUllah, adalah antara ulama yang memperjelaskan waham yang ditimbulkan oleh puak yang menempatkan Allah di sesuatu tempat, subhanAllah. Dalam karya beliau yang berjodol "Wa Huwa bil Ufuqil A'laa", beliau rahimahUllah menyatakan sebagai berikut:-
Tidak sepatutnya seseorang muslim yang mendengar kisah mi'raj mengenai naik dan turunnya Junjungan Nabi SAW ke langit, untuk menyangka bahawa antara hamba dan TuhanNya terdapat jarak yang tertentu yang dapat dijangkau, kerana sangkaan yang sedemikian adalah suatu kekufuran, yang mana kita berlindung dengan Allah daripadanya. Bahawasanya naik dan turun ini hanya dinisbahkan kepada hamba (yakni Junjungan Nabi SAW) dan bukannya kepada Tuhan. Meskipun Junjungan Nabi SAW pada malam isra' tersebut berkesudahan dengan mencapai jarak kedudukan seumpama dua anak panah atau lebih hampir lagi, tetap baginda tidak melepasi maqam / kedudukan seorang hamba. Dan keadaan baginda dengan Nabi Yunus bin Matta AS ketika ditelan ikan serta dibawanya ke lautan lepas sehingga ke dasar lautan adalah sama, dalam hal ketiadaan jarak bagi Allah dengan ciptaanNya, ketiadaan arah, ketiadaan mengambil tempat, ketiadaan had pembatas, dan ketiadaan dapat dijangkau (yakni bukanlah artinya bila Junjungan Nabi SAW mi'raj ke atas maka baginda lebih hampir kepada Tuhan berbanding Nabi Yunus yang dibawa ikan ke dasar lautan dari segi tempat dan jarak - satu di atas dan satu di bawah - kerana Allah tidak bertempat sehingga boleh didekati atau dihampiri dengan diputuskan jarak yang tertentu.) Dan telah dikatakan oleh segelintir ulama, bahawa ikan tersebut telah membawa Nabi Yunus sejauh perjalanan 6,000 tahun, sebagaimana disebut oleh Imam al-Baghawi dan selainnya. Apabila telah engkau ketahui yang sedemikian, maka yang dikehendaki dengan naiknya Junjungan Nabi SAW dan menempuhnya baginda jarak yang jauh tersebut adalah untuk menzahirkan / menyatakan kedudukan baginda kepada penghuni langit dan menyatakan bahawasanya bagindalah makhluk Allah yang paling utama. Pengertian ini diperkuatkan lagi dengan dijadikan buraq sebagai tunggangan baginda, lalu dihubungkan bagi baginda akan mi'raj (alat untuk naik ke langit), dijadikan baginda imam bagi para nabi dan malaikat, sedangkan Allah ta'ala berkuasa untuk mengangkat baginda tanpa buraq dan mi'raj.
Maka diisra` dan dimi`rajkan Junjungan Nabi SAW dengan menggunakan makhluk seperti buraq dan mi'raj adalah untuk menzahirkan kemuliaan dan ketinggian baginda di antara sekalian makhluk. Inilah hakikat sebenar mi'raj Junjungan SAW ke langit, agar dipersaksikan kepada segala penghuni langit akan darjat ketinggiannya penghulu sekalian makhluk. Tidaklah ia menunjukkan Allah berada di sesuatu tempat, Maha Suci Allah daripada mengambil faedah dari makhlukNya dan Maha Suci Ia daripada mengambil bagi lapang. รถ
http://bahrusshofa.blogspo t.com/
--------------------------
----------
Himpunan artikel-artikel menarik berkaitan Ahlul Bait klik : http://ahlulbait.blogdrive .com dan http://pondokhabib.wordpre ss.com
Sabda Nabi s.a.w. dari Abu Zar r.a. katanya: "Ketahuilah bahawa perumpamaan Ahli Baitku di tengah-tengah kamu seperti bahtera Nuh di tengah-tengah kaumnya, siapa yang menaikinya ia selamat dan siapa yang enggan pasti tenggelam". Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Hakim, Ibnu Jarir dan At-Tabarani dalam kitab Al-Kabir.
Bercerita tentang mi'raj Junjungan Nabi SAW, maka kerap-kali berlaku salahfaham pada segelintir masyarakat, di mana sesetengah "pendakwah" menggunakan peristiwa ini sebagai hujjah bahawa Allah ta'ala itu bertempat dan berarah, subhanAllah. Sedangkan mi'raj itu adalah sesuatu yang dialami oleh seorang hambaNya yang paling utama, Junjungan Nabi SAW, yang bermi'raj itu adalah baginda, Allah adalah yang memi'rajkan baginda. Maka yang bertempat dan yang mengambil tempat itu adalah hamba, dan sekali-kali bukan Allah SWT yang mengambil tempat. Di sinilah kita kena membezakan isyarat kepada makanah (darjat kedudukan) dan kepada makan (tempat).
Jika dikatakan tatkala Junjungan Nabi naik ke langit, maka kedudukan baginda menjadi lebih hampir kepada Tuhan, maka persoalannya ialah adakah dengan keberadaan baginda di bumi setelah mi'raj itu menjadikan baginda berada lebih jauh dari Tuhan? Sudah tentu tidak, kerana wujudnya Allah tidak bertempat, tidak berjarak, tidak berarah, wujudnya Allah berbeza dan menyalahi segala yang baharu. Sama juga dengan keadaannya jika dibuat perbandingan dengan peristiwa Nabi Yunus AS yang ditelan ikan dan dibawa ke dasar lautan. Jika Tuhan itu bertempat di langit, maka adakah dengan beradanya Nabi Yunus di dasar lautan itu baginda berada jauh dari Tuhan? Sungguh Allah sentiasa dekat dengan hamba-hambaNya yang sholeh dengan rahmatNya dan kasihsayangNya. Juga dekat dengan hamba-hambaNya yang derhaka dengan kemurkaan dan seksaanNya.
Prof. Dr. al-Muhaddits Habib Muhammad bin `Alawi bin `Abbas bin `Abdul `Aziz al-Maliki al-Hasani rahimahumUllah, adalah antara ulama yang memperjelaskan waham yang ditimbulkan oleh puak yang menempatkan Allah di sesuatu tempat, subhanAllah. Dalam karya beliau yang berjodol "Wa Huwa bil Ufuqil A'laa", beliau rahimahUllah menyatakan sebagai berikut:-
Tidak sepatutnya seseorang muslim yang mendengar kisah mi'raj mengenai naik dan turunnya Junjungan Nabi SAW ke langit, untuk menyangka bahawa antara hamba dan TuhanNya terdapat jarak yang tertentu yang dapat dijangkau, kerana sangkaan yang sedemikian adalah suatu kekufuran, yang mana kita berlindung dengan Allah daripadanya. Bahawasanya naik dan turun ini hanya dinisbahkan kepada hamba (yakni Junjungan Nabi SAW) dan bukannya kepada Tuhan. Meskipun Junjungan Nabi SAW pada malam isra' tersebut berkesudahan dengan mencapai jarak kedudukan seumpama dua anak panah atau lebih hampir lagi, tetap baginda tidak melepasi maqam / kedudukan seorang hamba. Dan keadaan baginda dengan Nabi Yunus bin Matta AS ketika ditelan ikan serta dibawanya ke lautan lepas sehingga ke dasar lautan adalah sama, dalam hal ketiadaan jarak bagi Allah dengan ciptaanNya, ketiadaan arah, ketiadaan mengambil tempat, ketiadaan had pembatas, dan ketiadaan dapat dijangkau (yakni bukanlah artinya bila Junjungan Nabi SAW mi'raj ke atas maka baginda lebih hampir kepada Tuhan berbanding Nabi Yunus yang dibawa ikan ke dasar lautan dari segi tempat dan jarak - satu di atas dan satu di bawah - kerana Allah tidak bertempat sehingga boleh didekati atau dihampiri dengan diputuskan jarak yang tertentu.) Dan telah dikatakan oleh segelintir ulama, bahawa ikan tersebut telah membawa Nabi Yunus sejauh perjalanan 6,000 tahun, sebagaimana disebut oleh Imam al-Baghawi dan selainnya. Apabila telah engkau ketahui yang sedemikian, maka yang dikehendaki dengan naiknya Junjungan Nabi SAW dan menempuhnya baginda jarak yang jauh tersebut adalah untuk menzahirkan / menyatakan kedudukan baginda kepada penghuni langit dan menyatakan bahawasanya bagindalah makhluk Allah yang paling utama. Pengertian ini diperkuatkan lagi dengan dijadikan buraq sebagai tunggangan baginda, lalu dihubungkan bagi baginda akan mi'raj (alat untuk naik ke langit), dijadikan baginda imam bagi para nabi dan malaikat, sedangkan Allah ta'ala berkuasa untuk mengangkat baginda tanpa buraq dan mi'raj.
Maka diisra` dan dimi`rajkan Junjungan Nabi SAW dengan menggunakan makhluk seperti buraq dan mi'raj adalah untuk menzahirkan kemuliaan dan ketinggian baginda di antara sekalian makhluk. Inilah hakikat sebenar mi'raj Junjungan SAW ke langit, agar dipersaksikan kepada segala penghuni langit akan darjat ketinggiannya penghulu sekalian makhluk. Tidaklah ia menunjukkan Allah berada di sesuatu tempat, Maha Suci Allah daripada mengambil faedah dari makhlukNya dan Maha Suci Ia daripada mengambil bagi lapang. รถ
http://bahrusshofa.blogspo
--------------------------
Himpunan artikel-artikel menarik berkaitan Ahlul Bait klik : http://ahlulbait.blogdrive
Sabda Nabi s.a.w. dari Abu Zar r.a. katanya: "Ketahuilah bahawa perumpamaan Ahli Baitku di tengah-tengah kamu seperti bahtera Nuh di tengah-tengah kaumnya, siapa yang menaikinya ia selamat dan siapa yang enggan pasti tenggelam". Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Hakim, Ibnu Jarir dan At-Tabarani dalam kitab Al-Kabir.
Monday, March 29, 2010
Kepentingan menyintai Ahlul Bait
Kepentingan Menyintai Ahlu Bait dan Batas Kecintaan Terhadapnya
Dicatat oleh IbnuNafis
Label: Soal Jawab Perkara Khilafiyyah
Jawapan diberikan oleh Dr Ali Jum'ah (Mufti Republik Arab Mesir)
Soalan :
Sejauh manakah pentingnya sikap cinta kepada ahlul bait (keluarga) Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam? Apakah batas-batas kecintaan itu? Apakah batas-batas pemisah di antara cinta dengan sikap ekstrem (keterlampauan) yang tercela?
Jawapan
ALlah subahanahu wa ta'ala telah berfirman :
"Katakanlah " Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang di dalam kekeluargaan." (Surah Asy Syura : 23)
Terdapat riwayat sahih dari Sa'id bin Jubair radiyaLlahu 'anhu bahawa dia berkata tentang makna ayat ini,
"Tidaklah suatu kampung (sub kabilah) dari Quraisy kecuali ada hubungan kekeluargaan dengan Baginda sallaLlahu 'alaihi wasallam.. "Baginda sallaLLahu 'alaihi wasallam bersabda, "..hendaklah kalian menyambung tali kekeluargaan di antara diriku dengan kalian." (Riwayat Bukhari, Sohih BUkhari, vol 4 hlmn 1286)
Jelas ini merupakan perintah serta wasiat mengenai memperbaiki hubungan dengan keturunan Baginda SallaLlahu 'alaihi wasallam . Dalam ayat tersebut ALlah subahanahu wa ta'ala memerintahkan Baginda untuk menyampaikan kepada umatnya.
RasuluLLah sallaLLahu 'alaihi wasallam telah memerintahkan kepada kita untuk mencintai keluarganya dan menjadikan mereka tauladan dalam kehidupan. Dalam banyak hadith yang mulia, RasuluLLah sallaLLahu 'alaihi wasallam mewasiatkan kepada kita untuk mencintai keturunan Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam (selawat dan salam sejahtera untuk mereka semuanya). Kami kemukakan hadith yang di antaranya adalah berdasarkan kepada sabda Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam :
"Amma ba'du, Perhatikan! Wahai manusia, sesungguhnya aku hanyalah manusia (seperti kalian) yang sudah hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, lalu aku menyambut. Dan, aku tinggalkan pada kalian dua hal yang besar; Kitab ALlah subahanahu wa ta'ala (al Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Maka berpedomanlah dengan Kitab ALlah subahanahu wa ta'ala dan berpegang teguhlah dengannya."
Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam menggalakkan kepada kita untuk berpedoman dengan Kitab ALlah subahanahu wa ta'ala dan menyukainya.
Kemudian Baginda bersabda,
"Dan semua keluargaku; aku mengingatkan kalian kepada ALlah subahanahu wa ta'ala pada (hak) keluargaku. Aku mengingatkan kalian kepada ALlah subahanahu wa ta'ala pada (hak) keluargaku. Aku mengingatkan kalian kepada ALlah subahanahu wa ta'ala pada (hak) keluargaku." Lalu Saidina Husain radiyaLlahu 'anhu bertanya, "Siapakah keluarga Baginda sallaLLahu 'alaihi wasallam wahai Zaid? Bukankah isteri-isteri Baginda sallaLlahu 'alaihi wasallam termasuk keluarga?" Dia (Zaid radiyaLLahu 'anhu) menjawab, "Isteri-isteri Baginda sallaLlahu 'alaihi wasallam termasuk keluarga Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam. Akan tetapi, keluarga Baginda sallaLLahu 'alaihi wasallam adalah orang-orang yang haram menerima sedekah." Saidina Husain radiyaLlahu 'anhu bertanya kembali, "Siapa mereka?" Dia menjawab, "Keluarga Saidina Ali radiyaLlahu 'anhu, keluarga Saidina 'Uqail radiyaLLahu 'anhu, keluarga Saidina Ja'far radiyaLLahu 'anhu, dan keluarga Saidina Abbas radiyaLlahu 'anhu" . Saidina Husain radiyaLLahu 'anhu bertanya, "Semua mereka ini haram menerima sedekah?" Dia (Zaid radiyaLLahu 'anhu) pun menjawab, "Benar."
(Hadith riwayat Ahmad, Musnad Ahmad, vol 4 hlmn 366; dan Muslim, Sohih Muslim, vol 4, hlmn 1873).
Demikian pula sabda Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam :
"Wahai manusia, aku tinggalkan pada kalian perkara yang apabila kalian berpegang dengannya, pasti kalian tidak akan tersesat : Kitab ALlah subahanahu wa ta'ala dan keturunanku (ahlulbait) " (Hadith riwayat Ahmad, Musnad Ahmad vol 3, hlm 26 dan Tirmidzi, Sunan Tirmidzi vol 5, hlm 662)
Jadi, kita hendaklah mencintai ALLah subahanahu wa ta'ala dengan sebanyak-banyak dan sedalam-dalamnya. Untuk mendapatkan cinta yang mendalam terhadap ALLah subahanahu wa ta'ala kita haruslah mencintai RasuluLLah sallaLLahu 'alaihi wasallam yang merupakan jendela kebaikan sebagai rahmat ALlah subahanahu wa ta'ala bagi seluruh semesta. Dengan cinta kepada RasuluLLah sallaLLahu 'alaihi wasallam, kita mencintai keluarganya yang mulia yang telah Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam wasiatkan kepada kita. Sangat besar keutamaan dan banyaknya kebaikan mereka (keturunan Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam).
Oleh itu, kedudukan cinta terhadap keluarga RasuluLlah sallaLLahu 'alaihi wasallam adalah di hati yang paling dalam bagi setiap Muslim. Itu merupakan tanda cinta kepada RasuluLLah sallaLLahu 'alaihi wasallam.
Maka dengan cinta kepada Baginda sallaLLahu 'alaihi wasallam, saya mencintai mereka. Sebagaimana cinta kepada Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam adalah tanda cinta kepada ALlah subahanahu wa ta'ala. Maka dengan cinta kepada ALLah subahanahu wa ta'ala, saya mencintai kebaikan. Seluruhnya berada dalam satu arah; sebagai media-media yang membawa kita sampai kepada tujuan. Kemudian ALlah subahanahu wa ta'ala memberikan kefahaman kepada kita akan maksud-Nya.
Sedangkan sikap ekstrim (rasa cinta berlebihan atau yang keterlampauan) itu tidak terdapat dalam cinta, tetapi itu ada di dalam keyakinan. Oleh itu, selama seorang Muslim bersih aqidahnya, maka tidak ada kekeliruan baginya di dalam cinta kepada RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam dan keluarganya.
Kita wajib meyakini tidak ada Tuhan selain ALLah subahanahu wa ta'ala, junjungan besar kita Nabi Muhammad sallaLlahu 'alaihi wasallam adalah pesuruh ALlah subahanahu wa ta'ala, dan para Nabi itu ma'sum (terpelihara). Sedangkan manusia selain Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam seperti para ahlulbait keturunan yang suci dan Sahabat radiyaLlahu 'anhu yang mulia tidak ma'sum. Mereka itu mahfuz (dipelihara) dengan pemeliharaan ALlah subahanahu wa ta'ala terhadap orang-orang yang soleh.
Sumber : Prof Dr Ali Jum’ah, Penjelasan Terhadap Masalah-masalah KhilafiahAl Bayan – Al Qawin li Tashbih Ba’dhi al Mafahim, .2008, Penerbitan Dar Hakamah, Selangor
--------------------------
----------
Himpunan artikel-artikel menarik berkaitan Ahlul Bait klik : http://ahlulbait.blogdrive .com dan http://pondokhabib.wordpre ss.com
Sabda Nabi s.a.w. dari Abu Zar r.a. katanya: "Ketahuilah bahawa perumpamaan Ahli Baitku di tengah-tengah kamu seperti bahtera Nuh di tengah-tengah kaumnya, siapa yang menaikinya ia selamat dan siapa yang enggan pasti tenggelam". Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Hakim, Ibnu Jarir dan At-Tabarani dalam kitab Al-Kabir.
Dicatat oleh IbnuNafis
Label: Soal Jawab Perkara Khilafiyyah
Jawapan diberikan oleh Dr Ali Jum'ah (Mufti Republik Arab Mesir)
Soalan :
Sejauh manakah pentingnya sikap cinta kepada ahlul bait (keluarga) Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam? Apakah batas-batas kecintaan itu? Apakah batas-batas pemisah di antara cinta dengan sikap ekstrem (keterlampauan) yang tercela?
Jawapan
ALlah subahanahu wa ta'ala telah berfirman :
"Katakanlah " Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang di dalam kekeluargaan." (Surah Asy Syura : 23)
Terdapat riwayat sahih dari Sa'id bin Jubair radiyaLlahu 'anhu bahawa dia berkata tentang makna ayat ini,
"Tidaklah suatu kampung (sub kabilah) dari Quraisy kecuali ada hubungan kekeluargaan dengan Baginda sallaLlahu 'alaihi wasallam.. "Baginda sallaLLahu 'alaihi wasallam bersabda, "..hendaklah kalian menyambung tali kekeluargaan di antara diriku dengan kalian." (Riwayat Bukhari, Sohih BUkhari, vol 4 hlmn 1286)
Jelas ini merupakan perintah serta wasiat mengenai memperbaiki hubungan dengan keturunan Baginda SallaLlahu 'alaihi wasallam . Dalam ayat tersebut ALlah subahanahu wa ta'ala memerintahkan Baginda untuk menyampaikan kepada umatnya.
RasuluLLah sallaLLahu 'alaihi wasallam telah memerintahkan kepada kita untuk mencintai keluarganya dan menjadikan mereka tauladan dalam kehidupan. Dalam banyak hadith yang mulia, RasuluLLah sallaLLahu 'alaihi wasallam mewasiatkan kepada kita untuk mencintai keturunan Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam (selawat dan salam sejahtera untuk mereka semuanya). Kami kemukakan hadith yang di antaranya adalah berdasarkan kepada sabda Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam :
"Amma ba'du, Perhatikan! Wahai manusia, sesungguhnya aku hanyalah manusia (seperti kalian) yang sudah hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, lalu aku menyambut. Dan, aku tinggalkan pada kalian dua hal yang besar; Kitab ALlah subahanahu wa ta'ala (al Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Maka berpedomanlah dengan Kitab ALlah subahanahu wa ta'ala dan berpegang teguhlah dengannya."
Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam menggalakkan kepada kita untuk berpedoman dengan Kitab ALlah subahanahu wa ta'ala dan menyukainya.
Kemudian Baginda bersabda,
"Dan semua keluargaku; aku mengingatkan kalian kepada ALlah subahanahu wa ta'ala pada (hak) keluargaku. Aku mengingatkan kalian kepada ALlah subahanahu wa ta'ala pada (hak) keluargaku. Aku mengingatkan kalian kepada ALlah subahanahu wa ta'ala pada (hak) keluargaku." Lalu Saidina Husain radiyaLlahu 'anhu bertanya, "Siapakah keluarga Baginda sallaLLahu 'alaihi wasallam wahai Zaid? Bukankah isteri-isteri Baginda sallaLlahu 'alaihi wasallam termasuk keluarga?" Dia (Zaid radiyaLLahu 'anhu) menjawab, "Isteri-isteri Baginda sallaLlahu 'alaihi wasallam termasuk keluarga Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam. Akan tetapi, keluarga Baginda sallaLLahu 'alaihi wasallam adalah orang-orang yang haram menerima sedekah." Saidina Husain radiyaLlahu 'anhu bertanya kembali, "Siapa mereka?" Dia menjawab, "Keluarga Saidina Ali radiyaLlahu 'anhu, keluarga Saidina 'Uqail radiyaLLahu 'anhu, keluarga Saidina Ja'far radiyaLLahu 'anhu, dan keluarga Saidina Abbas radiyaLlahu 'anhu" . Saidina Husain radiyaLLahu 'anhu bertanya, "Semua mereka ini haram menerima sedekah?" Dia (Zaid radiyaLLahu 'anhu) pun menjawab, "Benar."
(Hadith riwayat Ahmad, Musnad Ahmad, vol 4 hlmn 366; dan Muslim, Sohih Muslim, vol 4, hlmn 1873).
Demikian pula sabda Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam :
"Wahai manusia, aku tinggalkan pada kalian perkara yang apabila kalian berpegang dengannya, pasti kalian tidak akan tersesat : Kitab ALlah subahanahu wa ta'ala dan keturunanku (ahlulbait) " (Hadith riwayat Ahmad, Musnad Ahmad vol 3, hlm 26 dan Tirmidzi, Sunan Tirmidzi vol 5, hlm 662)
Jadi, kita hendaklah mencintai ALLah subahanahu wa ta'ala dengan sebanyak-banyak dan sedalam-dalamnya. Untuk mendapatkan cinta yang mendalam terhadap ALLah subahanahu wa ta'ala kita haruslah mencintai RasuluLLah sallaLLahu 'alaihi wasallam yang merupakan jendela kebaikan sebagai rahmat ALlah subahanahu wa ta'ala bagi seluruh semesta. Dengan cinta kepada RasuluLLah sallaLLahu 'alaihi wasallam, kita mencintai keluarganya yang mulia yang telah Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam wasiatkan kepada kita. Sangat besar keutamaan dan banyaknya kebaikan mereka (keturunan Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam).
Oleh itu, kedudukan cinta terhadap keluarga RasuluLlah sallaLLahu 'alaihi wasallam adalah di hati yang paling dalam bagi setiap Muslim. Itu merupakan tanda cinta kepada RasuluLLah sallaLLahu 'alaihi wasallam.
Maka dengan cinta kepada Baginda sallaLLahu 'alaihi wasallam, saya mencintai mereka. Sebagaimana cinta kepada Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam adalah tanda cinta kepada ALlah subahanahu wa ta'ala. Maka dengan cinta kepada ALLah subahanahu wa ta'ala, saya mencintai kebaikan. Seluruhnya berada dalam satu arah; sebagai media-media yang membawa kita sampai kepada tujuan. Kemudian ALlah subahanahu wa ta'ala memberikan kefahaman kepada kita akan maksud-Nya.
Sedangkan sikap ekstrim (rasa cinta berlebihan atau yang keterlampauan) itu tidak terdapat dalam cinta, tetapi itu ada di dalam keyakinan. Oleh itu, selama seorang Muslim bersih aqidahnya, maka tidak ada kekeliruan baginya di dalam cinta kepada RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam dan keluarganya.
Kita wajib meyakini tidak ada Tuhan selain ALLah subahanahu wa ta'ala, junjungan besar kita Nabi Muhammad sallaLlahu 'alaihi wasallam adalah pesuruh ALlah subahanahu wa ta'ala, dan para Nabi itu ma'sum (terpelihara). Sedangkan manusia selain Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam seperti para ahlulbait keturunan yang suci dan Sahabat radiyaLlahu 'anhu yang mulia tidak ma'sum. Mereka itu mahfuz (dipelihara) dengan pemeliharaan ALlah subahanahu wa ta'ala terhadap orang-orang yang soleh.
Sumber : Prof Dr Ali Jum’ah, Penjelasan Terhadap Masalah-masalah KhilafiahAl Bayan – Al Qawin li Tashbih Ba’dhi al Mafahim, .2008, Penerbitan Dar Hakamah, Selangor
--------------------------
Himpunan artikel-artikel menarik berkaitan Ahlul Bait klik : http://ahlulbait.blogdrive
Sabda Nabi s.a.w. dari Abu Zar r.a. katanya: "Ketahuilah bahawa perumpamaan Ahli Baitku di tengah-tengah kamu seperti bahtera Nuh di tengah-tengah kaumnya, siapa yang menaikinya ia selamat dan siapa yang enggan pasti tenggelam". Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Hakim, Ibnu Jarir dan At-Tabarani dalam kitab Al-Kabir.
JALAN CINTA KePaDa AHLUL BAYT.
JALAN CINTA KePaDa AHLUL BAYT.
Ketika turun Surah Asy Syuraa ayat 23: "Katakanlah wahai Muhammad, Aku tidak meminta balasan apapun dari kalian kecuali mencintai kerabat." Kemudian Ibnu Abbas ra bertanya pada Rasulullah: Wahai Rasulullah, siapakah yang dimaksud dengan kerabat yang wajib kami cintai? Rasulullah SAW menjawab: Ali, Fatimah, dan anak keturunannya.
Untuk lebih jelasnya lagi, saya persilakan anda untuk membaca sendiri kitabnya al- Imam as- Suyuthi yang berjudul Ihya' al-Mayt fi Fadlo'il Ahli al-Bait, yg memuat 60 Hadits tentang keutamaan Ahlu Bait.
1.) Dalam hadits sahih bukhori, Nabi Muhammad Shollahu laihi Wassalam bersabda " ibny hadza sayyidun, wala'allahu an yushliha bihi bayna fi'atayni adzimatayni minal muslimin , anakku ini (cucu beliau Al Hasan) adalah sayid (pemimpin,tuan) , dan berkat dia, semoga Allah mendamaikan dua kelompok agung Muslim "(H.R Bukhari). Rasulullah menyebut cucunya dengan sebutan ibny yang artinya Anakku.
2.) Alhasan wa Al Husain Sayyidaa syababi ahlil jannah, Hasan dan Husain adalah sayyid (pemimpin,tuan) para pemuda penghuni surga (H.R tirmidzi, ibnu majah dan Ahmad).
3.) "Perumpamaan ahli bait-ku, seperti perahu Nabi Nuh. Barang siapa yang berada di atasnya ia akan selamat, dan yang meninggalkannya akan tenggelam." (H.R. Thabrani)
4.) "Aku meninggalkan kalian yang apabila kalian pegang teguh tidak akan tersesat. Kitab Allah, dan keturunanku. "(H.R. Tirmidzi)
5.) "Umatku yang pertama kali aku beri pertolongan (Syafa'at) kelak di hari Kiamat, adalah yang mencintai Ahli bait-ku."(H. R. al-Dailami)
6.) "Didiklah anak-anak kalian atas tiga hal. Mencintai Nabi kalian. Mencintai Ahli bait- ku. Membaca al-Qur'an.(Diriwaya tkan oleh Ibnu Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardaweih, dan at-Thabrani dalam kitab tafsir-nya)
7.)Dari Yazid bin Hayan, katanya: "Saya berangkat bersama Hushain bin Sabrah dan Umar bin Muslim ke tempat Zaid bin Arqam r.a. Ketika kita sudah duduk-duduk di dekatnya, lalu Husain berkata padanya:
"Hai Zaid, engkau telah memperolehi kebaikan yang banyak sekali. Engkau dapat kesempatan melihat Rasulullah Shollahu Alaihi Wassalam. mendengarkan Hadisnya, berperang besertanya dan juga bersembahyang di belakangnya. Sungguh- sungguh engkau telah memperolehi kebaikan yang banyak sekali. Cubalah beritahukan kepada kita apa yang pernah engkau dengar dari Rasulullah Shollahu Alaihi Wassalam. Zaid lalu berkata:
"Hai anak saudaraku, demi Allah, sungguh usiaku ini telah tua dan janji kematianku hampir tiba, juga saya sudah lupa akan sebahagian apa yang telah pernah saya ingat dari Rasulullah Shollahu Alaihi Wassalam. Maka dari itu, apa yang saya beritahukan kepadamu semua, maka terimalah itu, sedang apa yang tidak saya beritahukan, hendaklah engkausemua jangan memaksa-maksakan padaku untuk saya terangkan."
Selanjutnya ia berkata: "Rasulullah Shollahu Alaihi Wassalam. pernah berdiri berkhutbah di suatu tempat berair yang disebut Khum, terletak antara Makkah dan Madinah. Baginda, Sayyidinna Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam, lalu bertahmid kepada Allah serta memujiNya, lalu menasihati dan memberikan peringatan, kemudian bersabda:
"Amma Ba'du, ingatlah wahai sekalian manusia, hanyasanya saya ini adalah seorang manusia, hampir sekali saya didatangi oleh utusan Tuhanku ?yakni malaikatul-maut, kemudian saya harus mengabulkan kehendakNya ?yakni diwafatkan. Saya meninggalkan untukmu semua dua benda berat ?agung ?iaitu pertama Kitabullah yang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya. Maka ambillah amalkanlah ?dengan berpedoman kepada Kitabullah itu dan peganglah ia erat-erat." Jadi Rasulullah s.a.w. memerintahkan untuk berpegang teguh serta mencintai benar-benar kepada kitabullah itu.
Selanjutnya Baginda, Sayyidinna Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam bersabda: "Dan juga ahli baitku. Saya memperingatkan kepadamu semua untuk bertaqwa kepada Allah dalam memuliakan ahli baitku, sekali lagi saya memperingatkan kepadamu semua untuk bertaqwa kepada Allah dalam memuliakan ahli baitku."
Hushain lalu berkata kepada Zaid: "Siapakah ahli baitnya itu, hai Zaid. Bukankah isteri- isterinya itu termasuk dari golongan ahli baitnya?" Zaid menjawab: "Ahli baitnya Baginda Sayyidinna Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam ialah Ahli keluarga keturunan ?Ali, Alu Aqil, Alu Ja'far dan Alu Abbas." Hushain mengatakan: "Semua orang dari golongan mereka ini diharamkan menerima sedekah." Zaid berkata: "Ya, benar." (Riwayat Muslim)
Demikian sebagian dalil-dalil dari Hadits Sayyidinna Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam yang secara jelas menyatakan keutamaan Ahlu Bait.
Bagaimana tidak, di dalam jasad mereka mengalir darah yang bersambung kepada makhluk yang paling utama, kekasih Allah, Sayyidinna Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam yang sentiasa dikasihi oleh umatnya yang mengerti betapa cintanya Baginda Nabi kepada kita.
Wallahu'alam
Ketika turun Surah Asy Syuraa ayat 23: "Katakanlah wahai Muhammad, Aku tidak meminta balasan apapun dari kalian kecuali mencintai kerabat." Kemudian Ibnu Abbas ra bertanya pada Rasulullah: Wahai Rasulullah, siapakah yang dimaksud dengan kerabat yang wajib kami cintai? Rasulullah SAW menjawab: Ali, Fatimah, dan anak keturunannya.
Untuk lebih jelasnya lagi, saya persilakan anda untuk membaca sendiri kitabnya al- Imam as- Suyuthi yang berjudul Ihya' al-Mayt fi Fadlo'il Ahli al-Bait, yg memuat 60 Hadits tentang keutamaan Ahlu Bait.
1.) Dalam hadits sahih bukhori, Nabi Muhammad Shollahu laihi Wassalam bersabda " ibny hadza sayyidun, wala'allahu an yushliha bihi bayna fi'atayni adzimatayni minal muslimin , anakku ini (cucu beliau Al Hasan) adalah sayid (pemimpin,tuan) , dan berkat dia, semoga Allah mendamaikan dua kelompok agung Muslim "(H.R Bukhari). Rasulullah menyebut cucunya dengan sebutan ibny yang artinya Anakku.
2.) Alhasan wa Al Husain Sayyidaa syababi ahlil jannah, Hasan dan Husain adalah sayyid (pemimpin,tuan) para pemuda penghuni surga (H.R tirmidzi, ibnu majah dan Ahmad).
3.) "Perumpamaan ahli bait-ku, seperti perahu Nabi Nuh. Barang siapa yang berada di atasnya ia akan selamat, dan yang meninggalkannya akan tenggelam." (H.R. Thabrani)
4.) "Aku meninggalkan kalian yang apabila kalian pegang teguh tidak akan tersesat. Kitab Allah, dan keturunanku. "(H.R. Tirmidzi)
5.) "Umatku yang pertama kali aku beri pertolongan (Syafa'at) kelak di hari Kiamat, adalah yang mencintai Ahli bait-ku."(H. R. al-Dailami)
6.) "Didiklah anak-anak kalian atas tiga hal. Mencintai Nabi kalian. Mencintai Ahli bait- ku. Membaca al-Qur'an.(Diriwaya tkan oleh Ibnu Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardaweih, dan at-Thabrani dalam kitab tafsir-nya)
7.)Dari Yazid bin Hayan, katanya: "Saya berangkat bersama Hushain bin Sabrah dan Umar bin Muslim ke tempat Zaid bin Arqam r.a. Ketika kita sudah duduk-duduk di dekatnya, lalu Husain berkata padanya:
"Hai Zaid, engkau telah memperolehi kebaikan yang banyak sekali. Engkau dapat kesempatan melihat Rasulullah Shollahu Alaihi Wassalam. mendengarkan Hadisnya, berperang besertanya dan juga bersembahyang di belakangnya. Sungguh- sungguh engkau telah memperolehi kebaikan yang banyak sekali. Cubalah beritahukan kepada kita apa yang pernah engkau dengar dari Rasulullah Shollahu Alaihi Wassalam. Zaid lalu berkata:
"Hai anak saudaraku, demi Allah, sungguh usiaku ini telah tua dan janji kematianku hampir tiba, juga saya sudah lupa akan sebahagian apa yang telah pernah saya ingat dari Rasulullah Shollahu Alaihi Wassalam. Maka dari itu, apa yang saya beritahukan kepadamu semua, maka terimalah itu, sedang apa yang tidak saya beritahukan, hendaklah engkausemua jangan memaksa-maksakan padaku untuk saya terangkan."
Selanjutnya ia berkata: "Rasulullah Shollahu Alaihi Wassalam. pernah berdiri berkhutbah di suatu tempat berair yang disebut Khum, terletak antara Makkah dan Madinah. Baginda, Sayyidinna Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam, lalu bertahmid kepada Allah serta memujiNya, lalu menasihati dan memberikan peringatan, kemudian bersabda:
"Amma Ba'du, ingatlah wahai sekalian manusia, hanyasanya saya ini adalah seorang manusia, hampir sekali saya didatangi oleh utusan Tuhanku ?yakni malaikatul-maut, kemudian saya harus mengabulkan kehendakNya ?yakni diwafatkan. Saya meninggalkan untukmu semua dua benda berat ?agung ?iaitu pertama Kitabullah yang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya. Maka ambillah amalkanlah ?dengan berpedoman kepada Kitabullah itu dan peganglah ia erat-erat." Jadi Rasulullah s.a.w. memerintahkan untuk berpegang teguh serta mencintai benar-benar kepada kitabullah itu.
Selanjutnya Baginda, Sayyidinna Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam bersabda: "Dan juga ahli baitku. Saya memperingatkan kepadamu semua untuk bertaqwa kepada Allah dalam memuliakan ahli baitku, sekali lagi saya memperingatkan kepadamu semua untuk bertaqwa kepada Allah dalam memuliakan ahli baitku."
Hushain lalu berkata kepada Zaid: "Siapakah ahli baitnya itu, hai Zaid. Bukankah isteri- isterinya itu termasuk dari golongan ahli baitnya?" Zaid menjawab: "Ahli baitnya Baginda Sayyidinna Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam ialah Ahli keluarga keturunan ?Ali, Alu Aqil, Alu Ja'far dan Alu Abbas." Hushain mengatakan: "Semua orang dari golongan mereka ini diharamkan menerima sedekah." Zaid berkata: "Ya, benar." (Riwayat Muslim)
Demikian sebagian dalil-dalil dari Hadits Sayyidinna Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam yang secara jelas menyatakan keutamaan Ahlu Bait.
Bagaimana tidak, di dalam jasad mereka mengalir darah yang bersambung kepada makhluk yang paling utama, kekasih Allah, Sayyidinna Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam yang sentiasa dikasihi oleh umatnya yang mengerti betapa cintanya Baginda Nabi kepada kita.
Wallahu'alam
AHLUL BAIT TELADAN SEMPURNA
Bismillaah, walhamdu lillah, wash-shalaatu was salaamu ‘ala rasulillah wa’ala aalihi wa man waalah, amma ba’du. Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT Tuhan semesta alam. Salawat dan salam sejahtera untuk Rasul penghulu umat Sayidina Muhammad saw serta Ahlul Baitnya yang suci dari dosa. Salam sejahtera untuk para sahabat-sahabat yang tulus, ikhlas dalam menghadapi cobaan dan derita dan menjadi teladan demi terwujudnya Panji “La ilaha Illallah”. Ahlul Bait adalah sebuah kata yang mana Alllah dan Rasul-NYA memberikan suatu makna khusus, kekhususan ini bukanlah suatu hal yang mustahil apabila Allah Swt berkehendak dan Allah mustahil memerintahkan suatu pengkultusan yang mencemari iman dan tauhid. Kecintaan kepada mereka diperintahkan kepada umat Islam karena Allah sendiri yang memuji mereka dalam ayat-ayat-NYA. Bahkan kecintaan kepada Ahlul Bait termasuk bagian dari kesempurnaan iman dan sebaliknya. Sebagain orang yang tidak mengerti cenderung memahami Ahlul Bait dengan pemikiran yang picik dan tidak sesuai dengan maksud yang sebenarnya. Hal itu disebabkan karena kurang mengenal sejarah Islam dengan baik ataupun sejarah yang sampai kepada kita tidak memberikan perhatian tentang siapa dan mengapa Ahlul Bait. Tidak sahnya shalat tanpa menyebut kemuliaan Ahlul Bait adalah merupakan bukti betapa penting kedudukan Ahlul Bait untuk diketahui dan diperkenalkan kepada segenap umat. Walaupun semua ulama mazhab sepakat mengenai hal ini, tetapi mereka berbeda pendapat mengenai batasan-batasan siapa saja yang termasuk Ahlul Bait. “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, hai Ahlulbait, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.” (QS. al-Ahzab : 33) Itulah keluarga yang disucikan Allah. Itulah Ahlul Bait. Itulah keluarga Nabi Saw. Tapi, siapakah tepatnya Ahlul Bait itu? Siapa saja yang termasuk kategori Ahlul Bait seperti yang dimaksud dalam surah al-Ahzab ayat (33) tersebut? Pendapat Para Ulama Pemikiran-pemikiran serta tafsir tentang sipakah Ahlul Bait yang termaktub dalam Al-Qur’an al-Karim surah al-Ahzab (33) banyak sekali hingga terbagi ke dalam tujuh kelompok. Jika kita telaah pendapat-pendapat para ulama tersebut, maka kita dapat menyederhanakan pendapat tersebut menjadi tiga kelompok, yaitu: Kelompok Pertama: Pendapat bahwa para istri Nabi termasuk Ahlul Bait, baik semata-mata atau bersama Ashabul Kisa atau seluruh Bani Hasyim. Kelompok Kedua: Pendapat bahwa yang termasuk Ahlul Bait adalah Ashabul Kisa, juga Bani Hasyim (Yaitu orang-orang yang diharamkan menerima santunan sedekah), seperti keluarga “Abbas, keluarga’Agil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Ali Karramullahu Wajhah. Kelompok Ketiga: Pendapat bahwa hanya Ashabul Kisa saja, Yaitu Rasulullah saw, ‘Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein—salawat dan salam sejahtera untuk mereka yang termasuk Ahlul Bait. Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Ummul Mukminin Aisyah ra yang berkata, “Suatu ketika Nabi mengeluarkan selimut dari bulu yang berwarna hitam. Tiba-tiba datanglah Hasan bin Ali, lalu Nabi memasukkan dia ke dalamnya. Lalu datanglah Husein bin Ali dan masuk pula bersama Hasan ke dalamnya. Lalu datang lagi Fathimah. Ia juga masuk ke dalamnya. Lalu datang Ali bin Abi Thalib, dan Nabi pun memasukkan dia ke dalamnya. Kemudian Nabi membaca firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kalian sesuci-sucinya.” Ahlul Bait sepanjang sejarahnya adalah merupakan gambaran sempurna bagi masyarakat Islam yang ideal. Tatanan masyarakat Islam dalam kerangka Ahlul Bait ialah yang meletakkan cinta dalam bingkainya yang agung. Ia menjadi insiprasi dan sumber kekuatan, tetap ada dan terus disegarkan. Ahlu Bait adalah madrasah nubuwwah, kalau masyarakat itu terbentuk dari kumpulan-kumpulan keluarga, maka Ahlul Bait adalah contoh terbaik dari semua keluarga. Cinta kepada Nabi dan Ahlul Bait sudah ada sejak hari-hari pertama dalam sejarah Islam, baik oleh al-Qur’an, oleh Hadis, maupun oleh akhlak dan tingkah laku Nabi dan karena pergaulan yang mesra dengan Rasulullah saw. Hubungan kecintaan ini dikuatkan oleh rasa senasib dan seperjuangan dalam membela Islam. Ajaran-ajaran Nabi menghilangkan asabiyah, rasa kebanggaan suku dan keturunan, sudah berganti dengan persaudaran yang kokoh sepanjang ajaran iman dan tauhid dan terwujudkan dalam kecintaan kepada Ahlul Baitnya. Sahabat-sahabat Nabi saw merasa lebih bangga disebut muslim daripada sebutan nama sukunya. Semua mereka mencintai Nabi sebagai pemimpinnya dan Ahlul Bait sebagai pengasuh, sehingga istri-istri Nabi digelarkan “ibu orang-orang beriman”. Tidak seorang muslim pun yang dapat meragukan betapa besar cintanya Khalifah Abu Bakar kepada Nabi saw dan Ahlul Baitnya. Begitu pula Imam Syafi’i kepada Ahlul Bait sudah umum ketahui orang. Ia mabuk dalam kecintaan ini demikian rupa, sehingga acapkali ia dinamakan Rafidhi. Imam Syafi’i berpendapat bahwa mencintai Ahlul Bait tidak usah diartikan membenci, apalagi mendendam kepada sahabat-sahabat Nabi yang lain. Pernah ditanya Imam Syafi’i tentang Imam Ali bin Abi Thalib dalam masa itu. Ia lalu menjawab : “Aku tidak akan berbicara tentang seorang tokoh, yang oleh teman-temannya dirahasiakan sejarah hidupnya, dan oleh musuh-musuhnya disimpan karena amarah. Kecintaan ini meluap-luap tiap masa dan tempat bahkan terdapat dalam kalangan yang memusuhinya sekali pun. Apa inikah sebabnya, maka para pencintanya memenuhi Timur dan Barat ? Perintah Mencintai Ahlul Bait “ Katakanlah (wahai Muhammad kepada kaummu ), ‘Aku tidak meminta kepada kalian suatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada al-Qurba (Ahlul Bait).QS. Asyu’araa’:23 Marilah kita membuka al-Qur’an yang menceritakan kejadian para nabi terdahulu tatkala menyampaikan seruan Ilahi kepada kaumnya. Nabi Nuh as berkata kepada umatnya : “Dan , ‘Hai kaumku, aku tidak meminta harta benda kepada kalian (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanya dari Allah semata.QS. Hud: 29 Nabi Saleh as berkata kepada umatnya : “Dan sekali-kali aku tidak meminta upah kepada kalian atas ajakanku itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.QS. Asy-Syu’araa’: 145 Nabi Luth as berkata kepada umatnya : “Dan sekali-kali aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakanku itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.QS. Asy-Syu’araa’: 164 Nabi Syuaib as berkata kepada umatnya : “Dan sekali-kali aku tidak meminta upah atas ajakanku. Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.QS. Asy-Syu’araa’: 180 Dari penjelasan-penjelas an di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa para nabi terdahulu—sebelum Nabi Muhammad saw—dalam menyampaikan seruan Ilahi, tidak mengharapkan upah dari kaumnya melainkan semata-mata hanya dari Allah, Tuhan semesta alam. Ini berbeda dengan Nabi Muhammad saw. Beliau meminta upah dari umatnya berupa cinta dan kasih sayang terhadap Ahlul Baitnya atas ajaran yang ia sampaikan melalui suatu perjuangan keras yang membutuhkan ketabahan dan kesabaran luar biasa. Jadi mencintai Ahlul Bait sama artinya dengan mencintai Rasulullah saw dan pada gilirannya sama artinya dengan mencintai Allah. Teladanilah jejak suci mereka agar kita menjadi umat yang tahu dan pandai bersyukur.
Wallahu A’lam. Sumber : http://pondokhabib. wordpress. com
Wallahu A’lam. Sumber : http://pondokhabib. wordpress. com
Ahlulbait dalam Sunnah Nabi saw
Ahlulbait dalam Sunnah Nabi saw
Orang yang membaca sunnah-sunnah Nabi saw, perjalanan hidupnya dan
memperhatikan hubungannya dengan Ahlulbaitnya yang telah ditegaskan
di dalam Al-Quran yakni Ali, Fathimah adan kedua putranya, pasti dia
mengetahui bahwa Ahlulbait Nabi mempunyai tanggung jawab risalah
dengan umat ini. Rasulullah saw telah menggariskannya untuk umat
agar mereka menerimanya sebagai perinyah dari Allah `azza wa jalla.
Langkah pertama yang ditempuh Nabi saw ialah melaksanakan perintah
Allah, yaitu menikahkan Fathimah kepada Ali bin Abi Thalib. Beliau
menanam pohon yang diberkati agar cabang-cabangnya menjangkau segala
ufuk umat ini di sepanjang sejaarahnya.
Tentang pernikahan itu Nabi bersabda kepada Imam Ali—salam
atasnya : “Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku agar aku
menikahkanmu kepada Fathimah dengan mahar empat mitsqal perak jika
engkau rela dengan yang demikian.” Dia berkata: “Aku rela dengan
yang demikian.”
Dari pernikahan yang diberkati itu lahir Imam Hasan dan Imam Husayn.
Dan dari sulbi Imam Husayn lahir sembilan Ahlulbait Nabi yang suci.
Dzurriyyah (keturunan) Nabi melalui sulbi Imam Ali as sebagaimana
yang beliau katakan : “Sesungguhnya Allah telah menjadikan keturunan
setiap nabi dari sulbinya, tetapi dzurriyyahku dari sulbi orang ini
yakni Ali.”
Cerita Ahlulbait Nabi saw dalam sunnahnya lebih banyak lagi, baik
tentang Fathimah sebagai sayyidatu nisa` l`’alamin, pengangkatan Ali
sebagai khalifah Nabi yang pertama, Ahllulbait sebagai padanan Al-
Quran, kedudukan mereka, dua belas imam maupun yang lainnya. Di sini
kita ceritakan dua hal saja, yaitu yang paling mengikat: Ahlulbait
sebagai bahtera keselamatan dan Ahlulbait padanan Al-Quran.
Bahtera Keselamatan
Abu Nuaym telah meriwayatkan hadits yang sanadnya dari Sa’id bin
Jubayr dari Ibnu Abbas dia berkata bahwa Rasulullah saw telah
mengatakan : “Perumpamaan Ahlulbaitku pada kamu adalah semisal
bahtera Nuh—`alayhi l`salam—barangsiapa yang mengikutinya pasti
selamat dan yang berpaling darinya pasti dia tenggelam.” Hadits Nabi
ini diriwayatkan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak `ala l`Shahihayn 2/343.
Dia berkata : Hadits ini sah berdasarkan persyaratan Muslim. Pesan
dari sunnah Nabi ini ialah bahwa kita hanya akan selamat jika
mengikuti Ahlulbait Nabi yang disucikan.
Padanan Al-Quran
Ahlulbait telah dijamin kesuciannya, mereka yang menjaga tafsir Al-
Quran dan sunnah-sunnah Rasul, mereka yang menjaga kesucian ajaran
Islam dari penambahan dan pengurangan, dari bid’ah, khurafat dan
takhayyul.
Supaya umat tidak tersesat, maka Rasulullah saw berpesan kepada
manusia agar tida tersesat jalan, sabdanya : “Wahai umat manusia!
Sesungguhnya telah kutinggalkan pada kamu yang apabila kamu
berpegang dengannya kamu tidak akan tersesat; kitab Allah
dan `itrahku Ahlulbaitku.” (HSR Al-Turmudzi 2/308).
Ahlulbait Dikenal Umat Terdahulu
Ahlulbait telah dikenal oleh umat-umat terdahulu, antara lain oleh
Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Musa—salam atas mereka.
Nabi Adam –salam atasnya–telah bermohon kepada Allah dengan hak
mereka. Ibn Abbas telah berkata : “Saya telah bertanya kepada
Rasulullah saw tentang kalimat-kalimat yang telah diterima Adam dari
Rabb-nya hingga Dia menerima taubatnya. Nabi saw bersabda : “Dia
telah bermohon (kepada Allah) : Dengan hak Muhammad, Ali, Fathimah,
Hasan dan Husayn terimalah taubatku, lalu Dia menerima taubatnya”.
(Al-Durr al-Mantsur ketika menafsirkan firman Allah `azza wa
jalla : “fatalaqqa `Adamu min Rabbihi kalimat,” (QS. Al-Baqarah 37),
baca juga kitab Kanzu l“Ummal 1:234.
Sebuah team ahli peneliti Rusia telah menemukan tumpukan kayu bekas
kapal Nabi Nuh as. yang di dalamnya terdapat tulisan doa tawassul
dengan Nabi Muhammad saw dan Ahlulbaitnya.
Orang yang membaca sunnah-sunnah Nabi saw, perjalanan hidupnya dan
memperhatikan hubungannya dengan Ahlulbaitnya yang telah ditegaskan
di dalam Al-Quran yakni Ali, Fathimah adan kedua putranya, pasti dia
mengetahui bahwa Ahlulbait Nabi mempunyai tanggung jawab risalah
dengan umat ini. Rasulullah saw telah menggariskannya untuk umat
agar mereka menerimanya sebagai perinyah dari Allah `azza wa jalla.
Langkah pertama yang ditempuh Nabi saw ialah melaksanakan perintah
Allah, yaitu menikahkan Fathimah kepada Ali bin Abi Thalib. Beliau
menanam pohon yang diberkati agar cabang-cabangnya menjangkau segala
ufuk umat ini di sepanjang sejaarahnya.
Tentang pernikahan itu Nabi bersabda kepada Imam Ali—salam
atasnya : “Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku agar aku
menikahkanmu kepada Fathimah dengan mahar empat mitsqal perak jika
engkau rela dengan yang demikian.” Dia berkata: “Aku rela dengan
yang demikian.”
Dari pernikahan yang diberkati itu lahir Imam Hasan dan Imam Husayn.
Dan dari sulbi Imam Husayn lahir sembilan Ahlulbait Nabi yang suci.
Dzurriyyah (keturunan) Nabi melalui sulbi Imam Ali as sebagaimana
yang beliau katakan : “Sesungguhnya Allah telah menjadikan keturunan
setiap nabi dari sulbinya, tetapi dzurriyyahku dari sulbi orang ini
yakni Ali.”
Cerita Ahlulbait Nabi saw dalam sunnahnya lebih banyak lagi, baik
tentang Fathimah sebagai sayyidatu nisa` l`’alamin, pengangkatan Ali
sebagai khalifah Nabi yang pertama, Ahllulbait sebagai padanan Al-
Quran, kedudukan mereka, dua belas imam maupun yang lainnya. Di sini
kita ceritakan dua hal saja, yaitu yang paling mengikat: Ahlulbait
sebagai bahtera keselamatan dan Ahlulbait padanan Al-Quran.
Bahtera Keselamatan
Abu Nuaym telah meriwayatkan hadits yang sanadnya dari Sa’id bin
Jubayr dari Ibnu Abbas dia berkata bahwa Rasulullah saw telah
mengatakan : “Perumpamaan Ahlulbaitku pada kamu adalah semisal
bahtera Nuh—`alayhi l`salam—barangsiapa yang mengikutinya pasti
selamat dan yang berpaling darinya pasti dia tenggelam.” Hadits Nabi
ini diriwayatkan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak `ala l`Shahihayn 2/343.
Dia berkata : Hadits ini sah berdasarkan persyaratan Muslim. Pesan
dari sunnah Nabi ini ialah bahwa kita hanya akan selamat jika
mengikuti Ahlulbait Nabi yang disucikan.
Padanan Al-Quran
Ahlulbait telah dijamin kesuciannya, mereka yang menjaga tafsir Al-
Quran dan sunnah-sunnah Rasul, mereka yang menjaga kesucian ajaran
Islam dari penambahan dan pengurangan, dari bid’ah, khurafat dan
takhayyul.
Supaya umat tidak tersesat, maka Rasulullah saw berpesan kepada
manusia agar tida tersesat jalan, sabdanya : “Wahai umat manusia!
Sesungguhnya telah kutinggalkan pada kamu yang apabila kamu
berpegang dengannya kamu tidak akan tersesat; kitab Allah
dan `itrahku Ahlulbaitku.” (HSR Al-Turmudzi 2/308).
Ahlulbait Dikenal Umat Terdahulu
Ahlulbait telah dikenal oleh umat-umat terdahulu, antara lain oleh
Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Musa—salam atas mereka.
Nabi Adam –salam atasnya–telah bermohon kepada Allah dengan hak
mereka. Ibn Abbas telah berkata : “Saya telah bertanya kepada
Rasulullah saw tentang kalimat-kalimat yang telah diterima Adam dari
Rabb-nya hingga Dia menerima taubatnya. Nabi saw bersabda : “Dia
telah bermohon (kepada Allah) : Dengan hak Muhammad, Ali, Fathimah,
Hasan dan Husayn terimalah taubatku, lalu Dia menerima taubatnya”.
(Al-Durr al-Mantsur ketika menafsirkan firman Allah `azza wa
jalla : “fatalaqqa `Adamu min Rabbihi kalimat,” (QS. Al-Baqarah 37),
baca juga kitab Kanzu l“Ummal 1:234.
Sebuah team ahli peneliti Rusia telah menemukan tumpukan kayu bekas
kapal Nabi Nuh as. yang di dalamnya terdapat tulisan doa tawassul
dengan Nabi Muhammad saw dan Ahlulbaitnya.
Wednesday, March 24, 2010
Salam...
Assalammualaikum wbt....
Akhirnya impian untuk menyiap kan blog aku sendiri telah berjaya aku buktikan. Aku mengambil masa untuk mengumpul bahan2 yang aku rasa patut aku letakkan disini.
Mungkin ada yang tertanya kenapa aku mulakan dengan Mazhab secara mendalam? Ini kerana aku nak semua tahu bahawa dalam Islam itu sendiri ada pelbagai pandangan yang berbeza2 dan setiap pandangan itu ada kebenaran yang tidak boleh di katakan palsu.
Selepas ini aku akan update dari semasa ke semasa tentang Manusia Agung, Rasulullah SAW.
Dengan blog aku ini mungkin dapat membantu salah faham yang timbul dalam mengenal Ahlul-Bait.
Akhirnya impian untuk menyiap kan blog aku sendiri telah berjaya aku buktikan. Aku mengambil masa untuk mengumpul bahan2 yang aku rasa patut aku letakkan disini.
Mungkin ada yang tertanya kenapa aku mulakan dengan Mazhab secara mendalam? Ini kerana aku nak semua tahu bahawa dalam Islam itu sendiri ada pelbagai pandangan yang berbeza2 dan setiap pandangan itu ada kebenaran yang tidak boleh di katakan palsu.
Selepas ini aku akan update dari semasa ke semasa tentang Manusia Agung, Rasulullah SAW.
Dengan blog aku ini mungkin dapat membantu salah faham yang timbul dalam mengenal Ahlul-Bait.
Tuesday, March 23, 2010
12. Berusaha Menjauhkan Taqlid
Taqlid dari sudut bahasa ialah menggantung kalung di leher. Dari sudut agama taqlid ialah tindakan mengikuti suatu pendapat tanpa mengetahui dalil atau hujah di sebaliknya. Orang yang melakukan taqlid digelar muqallid. Rashid Rida rahimahullah menerangkan:
Taqlid ialah mengikuti pendapat orang yang dianggap terhormat atau terpercaya dalam masyarakat tentang suatu hukum syari‘at Islam tanpa memerhatikan benar atau salah, baik atau buruk, manfaat atau mudarat hukum yang diikuti tersebut.[1]
Dalam konteks bermazhab, taqlid bererti:Mengikuti pendapat mazhab fiqh Islam atau ajaran berkenaan suatu mazhab fiqh tanpa mengetahui atau memahami dalil, hujah, alasan dan penerangan di sebaliknya.
Hukum Taqlid.
Di bab ini terdapat 3 pendapat:
Pertama: Haram bertaqlid. Taqlid hanya dibolehkan kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, tidak kepada sesama manusia setinggi mana sekalipun ilmunya.
Kedua: Wajib bertaqlid. Semua umat Islam wajib bertaqlid kepada salah seorang imam mujtahid kecuali mereka yang mencapai darjat kemampuan untuk berijtihad secara mutlak.
Ketiga: Hukum bertaqlid berbeza-beza bergantung kepada kemampuan setiap individu.
Pendapat yang benar:
Pendapat yang dianggap benar ialah pendapat yang ketiga, iaitu hukum taqlid bergantung kepada kemampuan individu. Kemampuan tersebut diukur dari dua sudut:
Pertama:
Kecerdasan akal untuk mengkaji dalil-dalil al-Qur’an dan al-Sunnah serta hujah para mujtahid sebelumnya.
Berdasarkan kajian tersebut dia mampu mengeluarkan pendapat yang tersendiri (mujtahid mustaqil) atau menguatkan satu pendapat di antara beberapa pendapat yang sedia ada (mujtahid murajjih) atau hanya sekadar mengetahui beberapa pendapat yang sedia ada, khasnya pendapat mazhab ikutannya (mujtahid musta’dil).
Sebaliknya jika dia tidak mampu mengkaji, maka dia hanya mengikut hasil kajian orang lain sambil memerhatikan dalil serta hujahnya (ittiba’) atau jika masih tidak mampu maka dia hanya mengambil pendapat orang tersebut (taqlid) tanpa memerhatikan dalil serta hujahnya.
Kedua:
Kemudahan fizikal seperti sihat anggota badan untuk bergerak mencari rujukan dan mengkajinya. Juga berkemudahan untuk melakukan rujukan seperti memiliki masa yang mencukupi, terdapat perpustakaan yang menyimpan koleksi rujukan ilmiah dengan jarak yang sewajarnya. Berdasarkan kemudahan ini dia mampu melakukan kajian sebagai seorang mujtahid sesuai dengan tingkatan-tingkatannya (mustaqil, murajjih atau musta’dil) secara keseluruhannya atau pada bab dan permasalahan tertentu sahaja.
Sebaliknya jika dia tidak memiliki kemudahan di atas, memadai jika dia hanya mengikut hasil kajian orang lain sambil memerhatikan dalil serta hujahnya (ittiba’) sekadar yang dapat diperolehinya. Jika masih menghadapi kesukaran, memadailah dengan hanya mengambil pendapat orang tersebut (taqlid).
Berkata Ibn Taimiyyah rahimahullah berkenaan hukum taqlid:
Pendapat yang dipegang oleh kebanyakan imam ialah ijtihad dibolehkan dalam beberapa sudut dan taqlid dibolehkan dalam beberapa sudut yang lain. Mereka tidak mewajibkan ijtihad ke atas setiap individu dan mereka tidak mengharamkan taqlid. (Pada waktu yang sama) mereka tidak mewajibkan taqlid ke atas setiap individu dan mereka tidak mengharamkan ijtihad.
Ijtihad dibolehkan mengikut kadar kemampuan masing-masing untuk berijtihad dan taqlid dibolehkan bagi sesiapa yang tidak mampu berijtihad. (Timbul persoalan) adakah orang yang mampu berijtihad dibolehkan baginya untuk bertaqlid ? Dalam persoalan ini terdapat perbezaan pendapat. Yang benar ia dibolehkan, iaitu pada ketika seseorang tidak mampu berijtihad sama ada kerana dalil-dalil yang dimilikinya sama-sama kuat atau kerana kesuntukan waktu untuk berijtihad atau kerana tidak menemui dalilnya. Dalam suasana keuzuran di atas, gugur baginya kewajipan untuk berijtihad sekadar apa yang menjadi keuzuran baginya dan statusnya beralih kepada apa yang di sebaliknya, iaitu taqlid. Ini sebagaimana orang yang memiliki keuzuran untuk bersuci kerana ketiadaan air (maka dia bertayamum).
Dan demikianlah juga bagi orang awam, jika dia berkemampuan untuk berijtihad dalam sebahagian masalah, maka dibolehkan baginya untuk berijtihad. Ini kerana ijtihad merupakan sesuatu yang boleh menerima pemecahan dan pembahagian (kepada tahap dan tingkatannya). Maka yang penting ialah mampu atau tidak (untuk berijtihad). Boleh jadi seorang itu mampu berijtihad di dalam sebahagian masalah akan tetapi tidak mampu di dalam sebahagian masalah yang lain. Akan tetapi kemampuan untuk berijtihad tidak boleh terlepas daripada terlebih dahulu menguasai ilmu yang diperlukan untuk mencapai ijtihad. Adapun jika dia hanya menguasai satu masalah daripada satu bab (atau topik) maka masih jauh baginya untuk ijtihad dalam (bab tersebut).[2]
Analisa Pendapat:
Pertama: Analisa ke atas pendapat yang mengharamkan taqlid.
Pihak yang melarang taqlid beralasan dengan kata-kata para imam mazhab yang melarang ajaran mereka diikuti tanpa kajian dalil dan hujah. Antara kata-kata yang dimaksudkan ialah:
Perkataan al-Syafi‘e rahimahullah (menegur salah seorang anak muridnya):
Hai Abu Ishaq, janganlah engkau mengikut begitu sahaja segala yang aku ucapkan, kajilah dahulu kerana apa yang aku ucapkan ini adalah masalah agama.[3]Perkataan Abu Hanifah rahimahullah:
Tidaklah dihalalkan bagi sesiapa menerima pendapat kami (mazhab) jika mereka tidak tahu dari sumber mana kami memperolehinya.[4]
Perkataan Malik bin Anas rahimahullah:
Aku hanya manusia biasa yang mana pendapat aku mungkin benar dan mungkin salah. Maka telitilah pendapat yang aku kemukakan.[5]
Perkataan Ahmad bin Hanbal rahimahullah:
Dapatkanlah ilmu dengan cara yang ditempuh oleh para imam mujtahid dalam mendapatkan ilmu; dan janganlah berpuas hati dengan hanya bertaqlid kerana taqlid itu bagaikan orang yang buta ![6]
Jawab:
Perkataan para imam sepertimana di atas atau apa-apa lain seumpama adalah benar akan tetapi jika dicermati secara mendalam, akan disedari bahawa ia hanya ditujukan kepada mereka yang berkemampuan dari sudut kecerdasan akal dan kemudahan fizikal. Tidak semua orang dapat mencapai tuntutan para imam mazhab tersebut. Justeru berkata al-Zarkasyi rahimahullah:
Sesungguhnya larangan tersebut hanyalah bagi para mujtahid agar tidak bertaqlid kepada mereka (para imam mazhab), bukan kepada orang-orang yang belum mencapai darjat mujtahid.[7]
Maka bagi mereka yang berkemampuan, dilarang untuk bertaqlid kepada ajaran para imam mazhab melainkan mengkajinya sesuai dengan tahap dan tingkatan ilmu masing-masing. Bagi mereka yang tidak mampu, boleh bertaqlid dengan catitan berusaha sekuat mampu untuk mengikuti dalil dan hujah yang digunakan oleh imam mazhab ikutan mereka.
Kedua: Analisa ke atas pendapat yang mewajibkan taqlid.
Pihak yang mewajibkan taqlid kepada semua orang beralasan dengan ayat berikut:
Oleh itu bertanyalah kamu kepada orang-orang yang berpengetahuan agama jika kamu tidak mengetahui. [al-Nahl 16:43]
Dengan ayat ini mereka berkata, kewajipan orang awam ialah bertanya dan kemudiannya bertaqlid kepada jawapan yang diberikan oleh orang yang berpengetahuan.
Jawab:
Penggunaan ayat di atas bagi mewajibkan taqlid kepada semua orang kecuali para mujtahid mustaqil adalah tidak benar kerana dua sebab:Pertama:
Ilmu dan ijtihad adalah sesuatu yang memiliki tahap dan tingkatannya. Orang awam sekalipun tidak mencapai tahap mujtahid mustaqil masih mampu untuk mencapai tahap yang lebih rendah seperti mujtahid murajjih dan mujtahid musta’dil.
Oleh itu tidak boleh mengeneralisasikan ayat di atas kepada semua orang awam kerana mereka terbahagi kepada beberapa tahap dan tingkatan untuk mengkaji dan berijtihad.
Kedua:
Taqlid adalah tindakan mengikut sesuatu pendapat agama tanpa memerhatikan dalil dan hujah di sebaliknya. Ayat di atas tidak bersifat menyokong taqlid kerana orang yang bertanya bakal menerima jawapan dalam dua bentuk:
1. Jawapan yang disertai dengan dalil dan hujah kemudian diikuti dengan kesimpulan hukumnya dan
2. Jawapan yang tidak disertai dengan dalil dan hujah tetapi hanya kesimpulan hukum seperti “Itu haram”, “Ini sunat” dan sebagainya.
Berpegang kepada bentuk jawapan yang pertama disebut ittiba’ manakala berpegang kepada bentuk jawapan yang kedua disebut taqlid. Oleh itu sekali lagi, tidak boleh mengeneralisasikan ayat di atas kepada bertaqlid sahaja. Malah kesimpulan yang lebih tepat terhadap ayat 43 surah al-Nahl di atas adalah menjauhkan diri daripada menerima jawapan dalam bentuk bertaqlid. Ibn Hazm rahimahullah menerangkan sebabnya:Kami tidak mengingkari fatwa yang diberikan oleh para ulama’ kepada orang awam yang meminta fatwa akan tetapi yang kami ingkari ialah penetapan fatwa tanpa bukti keterangan yang mendukunginya, tanpa rujukan kepada al-Qur’an dan al-Sunnah kerana yang demikian itu berkemungkinan menimbulkan ikutan kepada pendapat yang silap.
Jika pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sudah wujud orang yang memberi fatwa yang silap maka sudah tentu selepas kewafatan baginda berlaku lebih banyak kesilapan dalam konteks yang lebih luas. Oleh itu kita harus menghindari fatwa yang dikeluarkan oleh mufti yang tidak menyandarkannya kepada dalil al-Qur’an, al-Sunnah dan Ijma’.[8]
Kepentingan meninggalkan sikap taqlid.
Terdapat beberapa sebab penting umat Islam harus berusaha menjauhkan sikap taqlid. Antaranya:
· Taqlid menghilangkan keindahan Islam dan keyakinan ibadah. Seorang muqallid tidak merasai keindahan agama yang dianutinya dan jauh sekali daripada merasai kepuasan dalam beramal ibadah. Wahbah al-Zuhaili berkata:
Mengetahui hukum syara' di bidang fiqh tanpa dalil dan hujah tidak akan menimbulkan kepuasan fikiran dan kenikmatan jiwa serta tidak akan melahirkan ketenangan kepada mereka yang berilmu dan orang yang menuntut ilmu.
Dengan kata lain ilmu yang disertakan dengan dalil akan mengeluarkan seseorang daripada ikatan taqlid buta yang dicela oleh al-Qur'an kepada ikutan dalam keadaan sedar dan mengetahui seperti yang disyaratkan oleh imam-imam yang kita terima ilmu pengetahuan daripada mereka.
Selain itu, dalil dan hujah merupakan roh kepada fiqh. Mempelajarinya adalah menjadi latihan dan pendidikan akal serta dapat memupuk bakat orang yang mempunyai ilmu di dalam bidang ini.[9]
· Bertaqlid menjatuhkan manusia ke tahap yang sangat rendah. Ini kerana Allah Subhanahu wa Ta‘ala membezakan antara manusia dan haiwan dengan kurniaan akal sebagai satu alat yang menganalisa, mengkaji dan berfikir. Apabila manusia menolak penggunaan akal dengan bertaqlid, dia menolak satu-satunya ciri khas yang membezakannya dengan haiwan. Kata-kata al-Sya’rani rahimahullah menjelaskan lagi hakikat ini:
Sikap menyerah kepada pendapat para imam mujtahid adalah tindakan kelas orang yang paling rendah padahal yang saya (al-Sya'rani) menghendaki dengan kitab ini adalah apa yang melebihi daripada itu. Seorang muqallid harus tahu bagaimana imam yang diikutinya memahami suatu ayat atau hadis dan bagaimana cara imam tersebut mengambil hukum dari sumber pokoknya.[10]
· Taqlid menimbulkan sikap taksub mazhab kerana orang yang bertaqlid kepada satu mazhab, maka mazhab itu menjadi keyakinan dirinya sendiri. Sukar untuk dia melepaskan mazhabnya kerana dia tidak tahu apa yang betul dan apa yang salah berbanding dengan mazhab atau pendapat yang lain.
Sebaliknya yang yang sentiasa mengkaji ajaran mazhab akan memiliki sikap terbuka lagi toleran kerana dia sedia mengetahui kewujudan perbezaan pendapat di antara mazhab.
· Taqlid menyebabkan para pengikut mazhab tidak dapat membezakan antara ajaran asli mazhabnya dan ajaran adat tradisi yang telah bercampur aduk. Sebagai contoh, umat Islam Malaysia umumnya mengakui bahawa apa yang mereka amalkan adalah Mazhab al-Syafi‘e padahal yang benar kebanyakannya ialah percampuran antara Mazhab al-Syafi‘e dan adat tradisi tempatan.
Sesiapa yang melazimkan dirinya membaca kitab-kitab hadis akan mendapati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mengajar atau menjawab apa-apa persoalan daripada para sahabat, baginda akan berusaha memberikan penjelasan yang lengkap agar mereka dapat mengetahuinya dengan penuh keyakinan. Tidak sekali-kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghuraikan permasalahan agama dengan kaedah taqlid umpama: “Itu wajib, ini haram; itu sunat, ini makruh dan yang selainnya harus” sebagaimana yang lazim berlaku hari ini.Salah seorang sahabat bernama ‘Abd Allah ibn Mas‘ud radhiallahu ‘anh pernah menerangkan cara dia dan para sahabat lainnya belajar al-Qur'an dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
Biasanya seseorang di antara kami para sahabat jika belajar sepuluh ayat (dari al-Qur'an) tidak akan melebihinya sehingga kami mengerti benar ertinya dan cara melaksanakannya.
Cara seperti ini dicontohi oleh genarasi selepas mereka sebagaimana yang diceritakan oleh Abu ‘Abd al-Rahman al-Sulami:
Kami diberitahu oleh guru-guru yang mengajar al-Qur'an bahawa mereka dahulu belajar al-Qur'an dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sepuluh ayat, maka tidak akan diminta tambah kecuali sesudah diamalkan dan disesuaikan diri dengan tuntutan ayat tersebut.[11]
Beberapa langkah untuk menjauhi taqlid.Memandangkan taqlid sudah menjadi satu kelaziman umat Islam tanah air, berikut disenaraikan beberapa langkah untuk menjauhi taqlid:
· Menetapkan di dalam diri masing-masing bahawa menuntut ilmu adalah wajib hukumnya ke atas setiap individu muslim. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap Muslim.[12] Bertaqlid tidak termasuk di dalam kategori menuntut ilmu melainkan bagi orang yang benar-benar tidak mampu dari sudut kecerdasan akal dan kemudahan fizikal.
· Menetapkan keyakinan di dalam diri masing-masing bahawa menuntut ilmu agama adalah mudah sebagaimana menuntut ilmu-ilmu yang lain. Lebih dari itu sesiapa yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu atas tujuan memperbaiki agamanya, maka dia akan dipimpin oleh Allah sebagaimana firman-Nya:
Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh kerana memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami dan sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah adalah berserta orang-orang yang berusaha membaiki amalannya. [al-Ankabut 29:69]
· Lazimkan diri untuk menghadiri kuliah agama dan membaca buku yang bersifat ilmiah. Pasti setiap pendapat yang dikemukakan disandarkan kepada dalil al-Qur’an dan al-Sunnah diikuti dengan hujah tokoh yang muktabar. Jauhilah kuliah atau buku agama yang hanya membicarakan agama tanpa dalil dan hujah.
· Memberi perhatian dan keutamaan kepada para ustaz dan ustazah yang “junior”. Alhamdulillah, negara kita memiliki ramai graduan tempatan mahupun luar negara dalam jurusan agama yang mampu menyampaikan ilmu dengan menjauhi kaedah taqlid. Akan tetapi mereka tidak diberi perhatian yang sewajar oleh masyarakat sebagai sumber rujukan ilmu semata-mata kerana umur mereka yang agak muda.
· Berdoa kepada Allah agar diberi kecerdasan akal dan kemudahan fizikal untuk menuntut ilmu sebagaimana firman-Nya:
“Wahai Tuhanku, tambahilah ilmuku.” [Taha 20:114]
Subscribe to:
Posts (Atom)
