Search This Blog

PERHATIAN!!!!!!!!!

DISINI BUKAN TEMPAT UNTUK MEMAKI,MENGEJI ATAU MEMUSUHI.....DI SINI TEMPAT UNTUK MEMPELAJARI

mysterious

mysterious

Monday, March 29, 2010

Kepentingan menyintai Ahlul Bait

Kepentingan Menyintai Ahlu Bait dan Batas Kecintaan Terhadapnya
Dicatat oleh IbnuNafis
Label: Soal Jawab Perkara Khilafiyyah
Jawapan diberikan oleh Dr Ali Jum'ah (Mufti Republik Arab Mesir)

Soalan :

Sejauh manakah pentingnya sikap cinta kepada ahlul bait (keluarga) Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam? Apakah batas-batas kecintaan itu? Apakah batas-batas pemisah di antara cinta dengan sikap ekstrem (keterlampauan) yang tercela?

Jawapan

ALlah subahanahu wa ta'ala telah berfirman :



"Katakanlah " Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang di dalam kekeluargaan." (Surah Asy Syura : 23)


Terdapat riwayat sahih dari Sa'id bin Jubair radiyaLlahu 'anhu bahawa dia berkata tentang makna ayat ini,
"Tidaklah suatu kampung (sub kabilah) dari Quraisy kecuali ada hubungan kekeluargaan dengan Baginda sallaLlahu 'alaihi wasallam.. "Baginda sallaLLahu 'alaihi wasallam bersabda, "..hendaklah kalian menyambung tali kekeluargaan di antara diriku dengan kalian." (Riwayat Bukhari, Sohih BUkhari, vol 4 hlmn 1286)


Jelas ini merupakan perintah serta wasiat mengenai memperbaiki hubungan dengan keturunan Baginda SallaLlahu 'alaihi wasallam . Dalam ayat tersebut ALlah subahanahu wa ta'ala memerintahkan Baginda untuk menyampaikan kepada umatnya.

RasuluLLah sallaLLahu 'alaihi wasallam telah memerintahkan kepada kita untuk mencintai keluarganya dan menjadikan mereka tauladan dalam kehidupan. Dalam banyak hadith yang mulia, RasuluLLah sallaLLahu 'alaihi wasallam mewasiatkan kepada kita untuk mencintai keturunan Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam (selawat dan salam sejahtera untuk mereka semuanya). Kami kemukakan hadith yang di antaranya adalah berdasarkan kepada sabda Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam :


"Amma ba'du, Perhatikan! Wahai manusia, sesungguhnya aku hanyalah manusia (seperti kalian) yang sudah hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, lalu aku menyambut. Dan, aku tinggalkan pada kalian dua hal yang besar; Kitab ALlah subahanahu wa ta'ala (al Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Maka berpedomanlah dengan Kitab ALlah subahanahu wa ta'ala dan berpegang teguhlah dengannya."


Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam menggalakkan kepada kita untuk berpedoman dengan Kitab ALlah subahanahu wa ta'ala dan menyukainya.

Kemudian Baginda bersabda,
"Dan semua keluargaku; aku mengingatkan kalian kepada ALlah subahanahu wa ta'ala pada (hak) keluargaku. Aku mengingatkan kalian kepada ALlah subahanahu wa ta'ala pada (hak) keluargaku. Aku mengingatkan kalian kepada ALlah subahanahu wa ta'ala pada (hak) keluargaku." Lalu Saidina Husain radiyaLlahu 'anhu bertanya, "Siapakah keluarga Baginda sallaLLahu 'alaihi wasallam wahai Zaid? Bukankah isteri-isteri Baginda sallaLlahu 'alaihi wasallam termasuk keluarga?" Dia (Zaid radiyaLLahu 'anhu) menjawab, "Isteri-isteri Baginda sallaLlahu 'alaihi wasallam termasuk keluarga Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam. Akan tetapi, keluarga Baginda sallaLLahu 'alaihi wasallam adalah orang-orang yang haram menerima sedekah." Saidina Husain radiyaLlahu 'anhu bertanya kembali, "Siapa mereka?" Dia menjawab, "Keluarga Saidina Ali radiyaLlahu 'anhu, keluarga Saidina 'Uqail radiyaLLahu 'anhu, keluarga Saidina Ja'far radiyaLLahu 'anhu, dan keluarga Saidina Abbas radiyaLlahu 'anhu" . Saidina Husain radiyaLLahu 'anhu bertanya, "Semua mereka ini haram menerima sedekah?" Dia (Zaid radiyaLLahu 'anhu) pun menjawab, "Benar."
(Hadith riwayat Ahmad, Musnad Ahmad, vol 4 hlmn 366; dan Muslim, Sohih Muslim, vol 4, hlmn 1873).

Demikian pula sabda Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam :


"Wahai manusia, aku tinggalkan pada kalian perkara yang apabila kalian berpegang dengannya, pasti kalian tidak akan tersesat : Kitab ALlah subahanahu wa ta'ala dan keturunanku (ahlulbait) " (Hadith riwayat Ahmad, Musnad Ahmad vol 3, hlm 26 dan Tirmidzi, Sunan Tirmidzi vol 5, hlm 662)

Jadi, kita hendaklah mencintai ALLah subahanahu wa ta'ala dengan sebanyak-banyak dan sedalam-dalamnya. Untuk mendapatkan cinta yang mendalam terhadap ALLah subahanahu wa ta'ala kita haruslah mencintai RasuluLLah sallaLLahu 'alaihi wasallam yang merupakan jendela kebaikan sebagai rahmat ALlah subahanahu wa ta'ala bagi seluruh semesta. Dengan cinta kepada RasuluLLah sallaLLahu 'alaihi wasallam, kita mencintai keluarganya yang mulia yang telah Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam wasiatkan kepada kita. Sangat besar keutamaan dan banyaknya kebaikan mereka (keturunan Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam).

Oleh itu, kedudukan cinta terhadap keluarga RasuluLlah sallaLLahu 'alaihi wasallam adalah di hati yang paling dalam bagi setiap Muslim. Itu merupakan tanda cinta kepada RasuluLLah sallaLLahu 'alaihi wasallam.

Maka dengan cinta kepada Baginda sallaLLahu 'alaihi wasallam, saya mencintai mereka. Sebagaimana cinta kepada Nabi sallaLLahu 'alaihi wasallam adalah tanda cinta kepada ALlah subahanahu wa ta'ala. Maka dengan cinta kepada ALLah subahanahu wa ta'ala, saya mencintai kebaikan. Seluruhnya berada dalam satu arah; sebagai media-media yang membawa kita sampai kepada tujuan. Kemudian ALlah subahanahu wa ta'ala memberikan kefahaman kepada kita akan maksud-Nya.

Sedangkan sikap ekstrim (rasa cinta berlebihan atau yang keterlampauan) itu tidak terdapat dalam cinta, tetapi itu ada di dalam keyakinan. Oleh itu, selama seorang Muslim bersih aqidahnya, maka tidak ada kekeliruan baginya di dalam cinta kepada RasuluLlah sallaLlahu 'alaihi wasallam dan keluarganya.

Kita wajib meyakini tidak ada Tuhan selain ALLah subahanahu wa ta'ala, junjungan besar kita Nabi Muhammad sallaLlahu 'alaihi wasallam adalah pesuruh ALlah subahanahu wa ta'ala, dan para Nabi itu ma'sum (terpelihara). Sedangkan manusia selain Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam seperti para ahlulbait keturunan yang suci dan Sahabat radiyaLlahu 'anhu yang mulia tidak ma'sum. Mereka itu mahfuz (dipelihara) dengan pemeliharaan ALlah subahanahu wa ta'ala terhadap orang-orang yang soleh.

Sumber : Prof Dr Ali Jum’ah, Penjelasan Terhadap Masalah-masalah KhilafiahAl Bayan – Al Qawin li Tashbih Ba’dhi al Mafahim, .2008, Penerbitan Dar Hakamah, Selangor




--------------------------
----------

Himpunan artikel-artikel menarik berkaitan Ahlul Bait klik : http://ahlulbait.blogdrive.com dan http://pondokhabib.wordpress.com

Sabda Nabi s.a.w. dari Abu Zar r.a. katanya: "Ketahuilah bahawa perumpamaan Ahli Baitku di tengah-tengah kamu seperti bahtera Nuh di tengah-tengah kaumnya, siapa yang menaikinya ia selamat dan siapa yang enggan pasti tenggelam". Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Hakim, Ibnu Jarir dan At-Tabarani dalam kitab Al-Kabir.

JALAN CINTA KePaDa AHLUL BAYT.

JALAN CINTA KePaDa AHLUL BAYT.

Ketika turun Surah Asy Syuraa ayat 23: "Katakanlah wahai Muhammad, Aku tidak meminta balasan apapun dari kalian kecuali mencintai kerabat." Kemudian Ibnu Abbas ra bertanya pada Rasulullah: Wahai Rasulullah, siapakah yang dimaksud dengan kerabat yang wajib kami cintai? Rasulullah SAW menjawab: Ali, Fatimah, dan anak keturunannya.

Untuk lebih jelasnya lagi, saya persilakan anda untuk membaca sendiri kitabnya al- Imam as- Suyuthi yang berjudul Ihya' al-Mayt fi Fadlo'il Ahli al-Bait, yg memuat 60 Hadits tentang keutamaan Ahlu Bait.

1.) Dalam hadits sahih bukhori, Nabi Muhammad Shollahu laihi Wassalam bersabda " ibny hadza sayyidun, wala'allahu an yushliha bihi bayna fi'atayni adzimatayni minal muslimin , anakku ini (cucu beliau Al Hasan) adalah sayid (pemimpin,tuan) , dan berkat dia, semoga Allah mendamaikan dua kelompok agung Muslim "(H.R Bukhari). Rasulullah menyebut cucunya dengan sebutan ibny yang artinya Anakku.

2.) Alhasan wa Al Husain Sayyidaa syababi ahlil jannah, Hasan dan Husain adalah sayyid (pemimpin,tuan) para pemuda penghuni surga (H.R tirmidzi, ibnu majah dan Ahmad).

3.) "Perumpamaan ahli bait-ku, seperti perahu Nabi Nuh. Barang siapa yang berada di atasnya ia akan selamat, dan yang meninggalkannya akan tenggelam." (H.R. Thabrani)

4.) "Aku meninggalkan kalian yang apabila kalian pegang teguh tidak akan tersesat. Kitab Allah, dan keturunanku. "(H.R. Tirmidzi)

5.) "Umatku yang pertama kali aku beri pertolongan (Syafa'at) kelak di hari Kiamat, adalah yang mencintai Ahli bait-ku."(H. R. al-Dailami)

6.) "Didiklah anak-anak kalian atas tiga hal. Mencintai Nabi kalian. Mencintai Ahli bait- ku. Membaca al-Qur'an.(Diriwaya tkan oleh Ibnu Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardaweih, dan at-Thabrani dalam kitab tafsir-nya)

7.)Dari Yazid bin Hayan, katanya: "Saya berangkat bersama Hushain bin Sabrah dan Umar bin Muslim ke tempat Zaid bin Arqam r.a. Ketika kita sudah duduk-duduk di dekatnya, lalu Husain berkata padanya:

"Hai Zaid, engkau telah memperolehi kebaikan yang banyak sekali. Engkau dapat kesempatan melihat Rasulullah Shollahu Alaihi Wassalam. mendengarkan Hadisnya, berperang besertanya dan juga bersembahyang di belakangnya. Sungguh- sungguh engkau telah memperolehi kebaikan yang banyak sekali. Cubalah beritahukan kepada kita apa yang pernah engkau dengar dari Rasulullah Shollahu Alaihi Wassalam. Zaid lalu berkata:

"Hai anak saudaraku, demi Allah, sungguh usiaku ini telah tua dan janji kematianku hampir tiba, juga saya sudah lupa akan sebahagian apa yang telah pernah saya ingat dari Rasulullah Shollahu Alaihi Wassalam. Maka dari itu, apa yang saya beritahukan kepadamu semua, maka terimalah itu, sedang apa yang tidak saya beritahukan, hendaklah engkausemua jangan memaksa-maksakan padaku untuk saya terangkan."

Selanjutnya ia berkata: "Rasulullah Shollahu Alaihi Wassalam. pernah berdiri berkhutbah di suatu tempat berair yang disebut Khum, terletak antara Makkah dan Madinah. Baginda, Sayyidinna Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam, lalu bertahmid kepada Allah serta memujiNya, lalu menasihati dan memberikan peringatan, kemudian bersabda:

"Amma Ba'du, ingatlah wahai sekalian manusia, hanyasanya saya ini adalah seorang manusia, hampir sekali saya didatangi oleh utusan Tuhanku ?yakni malaikatul-maut, kemudian saya harus mengabulkan kehendakNya ?yakni diwafatkan. Saya meninggalkan untukmu semua dua benda berat ?agung ?iaitu pertama Kitabullah yang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya. Maka ambillah amalkanlah ?dengan berpedoman kepada Kitabullah itu dan peganglah ia erat-erat." Jadi Rasulullah s.a.w. memerintahkan untuk berpegang teguh serta mencintai benar-benar kepada kitabullah itu.

Selanjutnya Baginda, Sayyidinna Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam bersabda: "Dan juga ahli baitku. Saya memperingatkan kepadamu semua untuk bertaqwa kepada Allah dalam memuliakan ahli baitku, sekali lagi saya memperingatkan kepadamu semua untuk bertaqwa kepada Allah dalam memuliakan ahli baitku."

Hushain lalu berkata kepada Zaid: "Siapakah ahli baitnya itu, hai Zaid. Bukankah isteri- isterinya itu termasuk dari golongan ahli baitnya?" Zaid menjawab: "Ahli baitnya Baginda Sayyidinna Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam ialah Ahli keluarga keturunan ?Ali, Alu Aqil, Alu Ja'far dan Alu Abbas." Hushain mengatakan: "Semua orang dari golongan mereka ini diharamkan menerima sedekah." Zaid berkata: "Ya, benar." (Riwayat Muslim)

Demikian sebagian dalil-dalil dari Hadits Sayyidinna Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam yang secara jelas menyatakan keutamaan Ahlu Bait.

Bagaimana tidak, di dalam jasad mereka mengalir darah yang bersambung kepada makhluk yang paling utama, kekasih Allah, Sayyidinna Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam yang sentiasa dikasihi oleh umatnya yang mengerti betapa cintanya Baginda Nabi kepada kita.

Wallahu'alam

AHLUL BAIT TELADAN SEMPURNA

Bismillaah, walhamdu lillah, wash-shalaatu was salaamu ‘ala rasulillah wa’ala aalihi wa man waalah, amma ba’du. Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT Tuhan semesta alam. Salawat dan salam sejahtera untuk Rasul penghulu umat Sayidina Muhammad saw serta Ahlul Baitnya yang suci dari dosa. Salam sejahtera untuk para sahabat-sahabat yang tulus, ikhlas dalam menghadapi cobaan dan derita dan menjadi teladan demi terwujudnya Panji “La ilaha Illallah”. Ahlul Bait adalah sebuah kata yang mana Alllah dan Rasul-NYA memberikan suatu makna khusus, kekhususan ini bukanlah suatu hal yang mustahil apabila Allah Swt berkehendak dan Allah mustahil memerintahkan suatu pengkultusan yang mencemari iman dan tauhid. Kecintaan kepada mereka diperintahkan kepada umat Islam karena Allah sendiri yang memuji mereka dalam ayat-ayat-NYA. Bahkan kecintaan kepada Ahlul Bait termasuk bagian dari kesempurnaan iman dan sebaliknya. Sebagain orang yang tidak mengerti cenderung memahami Ahlul Bait dengan pemikiran yang picik dan tidak sesuai dengan maksud yang sebenarnya. Hal itu disebabkan karena kurang mengenal sejarah Islam dengan baik ataupun sejarah yang sampai kepada kita tidak memberikan perhatian tentang siapa dan mengapa Ahlul Bait. Tidak sahnya shalat tanpa menyebut kemuliaan Ahlul Bait adalah merupakan bukti betapa penting kedudukan Ahlul Bait untuk diketahui dan diperkenalkan kepada segenap umat. Walaupun semua ulama mazhab sepakat mengenai hal ini, tetapi mereka berbeda pendapat mengenai batasan-batasan siapa saja yang termasuk Ahlul Bait. “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, hai Ahlulbait, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.” (QS. al-Ahzab : 33) Itulah keluarga yang disucikan Allah. Itulah Ahlul Bait. Itulah keluarga Nabi Saw. Tapi, siapakah tepatnya Ahlul Bait itu? Siapa saja yang termasuk kategori Ahlul Bait seperti yang dimaksud dalam surah al-Ahzab ayat (33) tersebut? Pendapat Para Ulama Pemikiran-pemikiran serta tafsir tentang sipakah Ahlul Bait yang termaktub dalam Al-Qur’an al-Karim surah al-Ahzab (33) banyak sekali hingga terbagi ke dalam tujuh kelompok. Jika kita telaah pendapat-pendapat para ulama tersebut, maka kita dapat menyederhanakan pendapat tersebut menjadi tiga kelompok, yaitu: Kelompok Pertama: Pendapat bahwa para istri Nabi termasuk Ahlul Bait, baik semata-mata atau bersama Ashabul Kisa atau seluruh Bani Hasyim. Kelompok Kedua: Pendapat bahwa yang termasuk Ahlul Bait adalah Ashabul Kisa, juga Bani Hasyim (Yaitu orang-orang yang diharamkan menerima santunan sedekah), seperti keluarga “Abbas, keluarga’Agil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Ali Karramullahu Wajhah. Kelompok Ketiga: Pendapat bahwa hanya Ashabul Kisa saja, Yaitu Rasulullah saw, ‘Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein—salawat dan salam sejahtera untuk mereka yang termasuk Ahlul Bait. Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Ummul Mukminin Aisyah ra yang berkata, “Suatu ketika Nabi mengeluarkan selimut dari bulu yang berwarna hitam. Tiba-tiba datanglah Hasan bin Ali, lalu Nabi memasukkan dia ke dalamnya. Lalu datanglah Husein bin Ali dan masuk pula bersama Hasan ke dalamnya. Lalu datang lagi Fathimah. Ia juga masuk ke dalamnya. Lalu datang Ali bin Abi Thalib, dan Nabi pun memasukkan dia ke dalamnya. Kemudian Nabi membaca firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kalian sesuci-sucinya.” Ahlul Bait sepanjang sejarahnya adalah merupakan gambaran sempurna bagi masyarakat Islam yang ideal. Tatanan masyarakat Islam dalam kerangka Ahlul Bait ialah yang meletakkan cinta dalam bingkainya yang agung. Ia menjadi insiprasi dan sumber kekuatan, tetap ada dan terus disegarkan. Ahlu Bait adalah madrasah nubuwwah, kalau masyarakat itu terbentuk dari kumpulan-kumpulan keluarga, maka Ahlul Bait adalah contoh terbaik dari semua keluarga. Cinta kepada Nabi dan Ahlul Bait sudah ada sejak hari-hari pertama dalam sejarah Islam, baik oleh al-Qur’an, oleh Hadis, maupun oleh akhlak dan tingkah laku Nabi dan karena pergaulan yang mesra dengan Rasulullah saw. Hubungan kecintaan ini dikuatkan oleh rasa senasib dan seperjuangan dalam membela Islam. Ajaran-ajaran Nabi menghilangkan asabiyah, rasa kebanggaan suku dan keturunan, sudah berganti dengan persaudaran yang kokoh sepanjang ajaran iman dan tauhid dan terwujudkan dalam kecintaan kepada Ahlul Baitnya. Sahabat-sahabat Nabi saw merasa lebih bangga disebut muslim daripada sebutan nama sukunya. Semua mereka mencintai Nabi sebagai pemimpinnya dan Ahlul Bait sebagai pengasuh, sehingga istri-istri Nabi digelarkan “ibu orang-orang beriman”. Tidak seorang muslim pun yang dapat meragukan betapa besar cintanya Khalifah Abu Bakar kepada Nabi saw dan Ahlul Baitnya. Begitu pula Imam Syafi’i kepada Ahlul Bait sudah umum ketahui orang. Ia mabuk dalam kecintaan ini demikian rupa, sehingga acapkali ia dinamakan Rafidhi. Imam Syafi’i berpendapat bahwa mencintai Ahlul Bait tidak usah diartikan membenci, apalagi mendendam kepada sahabat-sahabat Nabi yang lain. Pernah ditanya Imam Syafi’i tentang Imam Ali bin Abi Thalib dalam masa itu. Ia lalu menjawab : “Aku tidak akan berbicara tentang seorang tokoh, yang oleh teman-temannya dirahasiakan sejarah hidupnya, dan oleh musuh-musuhnya disimpan karena amarah. Kecintaan ini meluap-luap tiap masa dan tempat bahkan terdapat dalam kalangan yang memusuhinya sekali pun. Apa inikah sebabnya, maka para pencintanya memenuhi Timur dan Barat ? Perintah Mencintai Ahlul Bait “ Katakanlah (wahai Muhammad kepada kaummu ), ‘Aku tidak meminta kepada kalian suatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang kepada al-Qurba (Ahlul Bait).QS. Asyu’araa’:23 Marilah kita membuka al-Qur’an yang menceritakan kejadian para nabi terdahulu tatkala menyampaikan seruan Ilahi kepada kaumnya. Nabi Nuh as berkata kepada umatnya : “Dan , ‘Hai kaumku, aku tidak meminta harta benda kepada kalian (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanya dari Allah semata.QS. Hud: 29 Nabi Saleh as berkata kepada umatnya : “Dan sekali-kali aku tidak meminta upah kepada kalian atas ajakanku itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.QS. Asy-Syu’araa’: 145 Nabi Luth as berkata kepada umatnya : “Dan sekali-kali aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakanku itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.QS. Asy-Syu’araa’: 164 Nabi Syuaib as berkata kepada umatnya : “Dan sekali-kali aku tidak meminta upah atas ajakanku. Upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.QS. Asy-Syu’araa’: 180 Dari penjelasan-penjelas an di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa para nabi terdahulu—sebelum Nabi Muhammad saw—dalam menyampaikan seruan Ilahi, tidak mengharapkan upah dari kaumnya melainkan semata-mata hanya dari Allah, Tuhan semesta alam. Ini berbeda dengan Nabi Muhammad saw. Beliau meminta upah dari umatnya berupa cinta dan kasih sayang terhadap Ahlul Baitnya atas ajaran yang ia sampaikan melalui suatu perjuangan keras yang membutuhkan ketabahan dan kesabaran luar biasa. Jadi mencintai Ahlul Bait sama artinya dengan mencintai Rasulullah saw dan pada gilirannya sama artinya dengan mencintai Allah. Teladanilah jejak suci mereka agar kita menjadi umat yang tahu dan pandai bersyukur.
Wallahu A’lam. Sumber : http://pondokhabib. wordpress. com

Ahlulbait dalam Sunnah Nabi saw

Ahlulbait dalam Sunnah Nabi saw


Orang yang membaca sunnah-sunnah Nabi saw, perjalanan hidupnya dan
memperhatikan hubungannya dengan Ahlulbaitnya yang telah ditegaskan
di dalam Al-Quran yakni Ali, Fathimah adan kedua putranya, pasti dia
mengetahui bahwa Ahlulbait Nabi mempunyai tanggung jawab risalah
dengan umat ini. Rasulullah saw telah menggariskannya untuk umat
agar mereka menerimanya sebagai perinyah dari Allah `azza wa jalla.

Langkah pertama yang ditempuh Nabi saw ialah melaksanakan perintah
Allah, yaitu menikahkan Fathimah kepada Ali bin Abi Thalib. Beliau
menanam pohon yang diberkati agar cabang-cabangnya menjangkau segala
ufuk umat ini di sepanjang sejaarahnya.

Tentang pernikahan itu Nabi bersabda kepada Imam Ali—salam
atasnya : “Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku agar aku
menikahkanmu kepada Fathimah dengan mahar empat mitsqal perak jika
engkau rela dengan yang demikian.” Dia berkata: “Aku rela dengan
yang demikian.”

Dari pernikahan yang diberkati itu lahir Imam Hasan dan Imam Husayn.
Dan dari sulbi Imam Husayn lahir sembilan Ahlulbait Nabi yang suci.
Dzurriyyah (keturunan) Nabi melalui sulbi Imam Ali as sebagaimana
yang beliau katakan : “Sesungguhnya Allah telah menjadikan keturunan
setiap nabi dari sulbinya, tetapi dzurriyyahku dari sulbi orang ini
yakni Ali.”

Cerita Ahlulbait Nabi saw dalam sunnahnya lebih banyak lagi, baik
tentang Fathimah sebagai sayyidatu nisa` l`’alamin, pengangkatan Ali
sebagai khalifah Nabi yang pertama, Ahllulbait sebagai padanan Al-
Quran, kedudukan mereka, dua belas imam maupun yang lainnya. Di sini
kita ceritakan dua hal saja, yaitu yang paling mengikat: Ahlulbait
sebagai bahtera keselamatan dan Ahlulbait padanan Al-Quran.

Bahtera Keselamatan

Abu Nuaym telah meriwayatkan hadits yang sanadnya dari Sa’id bin
Jubayr dari Ibnu Abbas dia berkata bahwa Rasulullah saw telah
mengatakan : “Perumpamaan Ahlulbaitku pada kamu adalah semisal
bahtera Nuh—`alayhi l`salam—barangsiapa yang mengikutinya pasti
selamat dan yang berpaling darinya pasti dia tenggelam.” Hadits Nabi
ini diriwayatkan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak `ala l`Shahihayn 2/343.
Dia berkata : Hadits ini sah berdasarkan persyaratan Muslim. Pesan
dari sunnah Nabi ini ialah bahwa kita hanya akan selamat jika
mengikuti Ahlulbait Nabi yang disucikan.

Padanan Al-Quran

Ahlulbait telah dijamin kesuciannya, mereka yang menjaga tafsir Al-
Quran dan sunnah-sunnah Rasul, mereka yang menjaga kesucian ajaran
Islam dari penambahan dan pengurangan, dari bid’ah, khurafat dan
takhayyul.

Supaya umat tidak tersesat, maka Rasulullah saw berpesan kepada
manusia agar tida tersesat jalan, sabdanya : “Wahai umat manusia!
Sesungguhnya telah kutinggalkan pada kamu yang apabila kamu
berpegang dengannya kamu tidak akan tersesat; kitab Allah
dan `itrahku Ahlulbaitku.” (HSR Al-Turmudzi 2/308).

Ahlulbait Dikenal Umat Terdahulu

Ahlulbait telah dikenal oleh umat-umat terdahulu, antara lain oleh
Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Musa—salam atas mereka.

Nabi Adam –salam atasnya–telah bermohon kepada Allah dengan hak
mereka. Ibn Abbas telah berkata : “Saya telah bertanya kepada
Rasulullah saw tentang kalimat-kalimat yang telah diterima Adam dari
Rabb-nya hingga Dia menerima taubatnya. Nabi saw bersabda : “Dia
telah bermohon (kepada Allah) : Dengan hak Muhammad, Ali, Fathimah,
Hasan dan Husayn terimalah taubatku, lalu Dia menerima taubatnya”.
(Al-Durr al-Mantsur ketika menafsirkan firman Allah `azza wa
jalla : “fatalaqqa `Adamu min Rabbihi kalimat,” (QS. Al-Baqarah 37),
baca juga kitab Kanzu l“Ummal 1:234.

Sebuah team ahli peneliti Rusia telah menemukan tumpukan kayu bekas
kapal Nabi Nuh as. yang di dalamnya terdapat tulisan doa tawassul
dengan Nabi Muhammad saw dan Ahlulbaitnya.